Menjaga Lisan dan Bijak Bermedia Sosial, Cermin Akhlak Seorang Muslim

  • 21 Sep 2026 11:27 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Kemajuan teknologi membuat masyarakat semakin mudah berkomunikasi dan memperoleh informasi. Hanya dengan beberapa sentuhan, seseorang dapat membagikan berita, memberikan komentar, maupun menyampaikan pendapat melalui media sosial.

Namun, kemudahan tersebut juga menuntut tanggung jawab. Setiap informasi yang diterima tidak seharusnya langsung dipercaya dan disebarluaskan. Demikian pula setiap perkataan dan komentar perlu dipertimbangkan agar tidak menyakiti orang lain atau menimbulkan persoalan.

Dalam ajaran Islam, menjaga perkataan dan memastikan kebenaran informasi merupakan bagian dari akhlak yang penting. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Ayat tersebut memberikan tuntunan agar seseorang tidak tergesa-gesa menerima dan menyebarkan sebuah berita. Pesan utama ayat ini adalah pentingnya melakukan tabayyun, yakni memeriksa dan memastikan kebenaran suatu informasi sebelum mengambil tindakan atau menyampaikannya kepada orang lain.

Berkata Baik atau Diam

Selain mengajarkan kehati-hatian dalam menerima informasi, Islam juga memberikan tuntunan dalam berbicara. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan tercantum dalam Sahih Muslim No. 47a, Kitab Iman, Hadis 80.

Pesan tersebut sangat relevan dengan kehidupan di era digital. Media sosial memberikan ruang yang luas bagi setiap orang untuk berbicara. Namun, kebebasan menyampaikan pendapat bukan berarti seseorang bebas mengatakan atau menyebarkan apa saja tanpa mempertimbangkan dampaknya.

Sebelum menulis komentar, membagikan sebuah unggahan, atau meneruskan pesan kepada orang lain, seorang Muslim dapat mempertimbangkan beberapa hal: apakah informasi tersebut benar, apakah bermanfaat, dan apakah penyampaiannya dapat menimbulkan mudarat bagi orang lain.

Jangan Mudah Menyebarkan Informasi

Tidak semua informasi yang beredar di media sosial memiliki kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Sebuah pesan dapat dipotong dari konteks, judul dapat dibuat berlebihan, atau informasi lama dapat kembali beredar seolah-olah merupakan kejadian baru.

Karena itu, prinsip tabayyun menjadi penting. Masyarakat dapat memeriksa sumber berita, membaca informasi secara utuh, membandingkannya dengan sumber yang terpercaya, dan tidak langsung menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Sikap tersebut bukan hanya diperlukan untuk menghindari kesalahan informasi, tetapi juga sebagai bentuk menjaga kehormatan dan hak orang lain.

Bijak Menggunakan Media Sosial

Menjaga lisan pada masa kini tidak hanya berarti menjaga ucapan secara langsung. Tulisan, komentar, foto, video, dan pesan yang kita sebarkan juga merupakan bentuk komunikasi. Karena itu, nilai “berkata baik atau diam” dapat menjadi pengingat agar media sosial digunakan untuk menyampaikan hal-hal yang bermanfaat. Perbedaan pendapat pun dapat disampaikan dengan bahasa yang santun tanpa menghina, merendahkan, atau menyebarkan tuduhan yang belum terbukti.

Dengan menerapkan tabayyun dan menjaga perkataan, masyarakat dapat ikut menciptakan ruang komunikasi yang lebih sehat. Setiap orang memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa apa yang disampaikannya tidak menjadi sumber kerugian bagi orang lain.

Pada akhirnya, menjaga lisan bukan hanya tentang memilih kata-kata yang baik, tetapi juga tentang memiliki tanggung jawab terhadap setiap informasi yang kita terima dan sebarkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....