Bedah Buku Strategi Fiskal Nabi Yusuf
- 16 Sep 2026 16:13 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Kisah Nabi Yusuf AS tidak hanya mengajarkan kesabaran dan keteguhan menghadapi ujian, tetapi juga menyimpan konsep penting tentang bagaimana sebuah negara menghadapi krisis, mengelola keuangan dan memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat. Gagasan itu menjadi pokok pembahasan Dr. H. Cucun Ahmad Syamsurijal, S.Ag., M.A.P., Wakil Ketua DPR RI sekaligus penulis buku Strategi Fiskal Nabi Yusuf, dalam bedah buku yang digelar dalam rangkaian pelantikan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe periode 2026–2030. Rabu 16 September 2026.
Dalam paparan slide, Cucun menguraikan hikmah kisah Nabi Yusuf AS ketika Mesir menghadapi ancaman paceklik panjang. Nabi Yusuf tidak menunggu krisis datang, tetapi membaca tanda-tanda yang ada, menyusun perencanaan, mengelola cadangan pangan dan memastikan sumber daya negara dapat digunakan untuk menghadapi masa sulit.
Dari sini, strategi fiskal Nabi Yusuf dapat dipahami sebagai pelajaran tentang pentingnya perencanaan ekonomi sebelum krisis terjadi. Negara tidak cukup hanya bereaksi ketika masyarakat sudah mengalami kesulitan. Kebijakan fiskal harus mampu menjaga ketersediaan pangan, mengendalikan pengelolaan sumber daya dan memastikan kekayaan negara memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kekuatan kisah tersebut terletak pada keberanian Nabi Yusuf menawarkan kompetensinya untuk mengelola perbendaharaan negara. Ia memahami persoalan yang akan dihadapi dan memiliki kemampuan untuk menyusun langkah penyelamatan ekonomi. Artinya, pengelolaan fiskal membutuhkan orang yang amanah sekaligus memiliki pengetahuan dan kemampuan.
Prinsip itu kemudian melahirkan pesan kepemimpinan yang kuat: pemimpin diangkat karena amanah dan kompetensi, bukan semata-mata karena kedekatan. Dalam pengelolaan ekonomi negara, kesalahan memilih orang yang tidak memiliki kapasitas dapat berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Dr. Bukhari, M.H., CM, salah satu Dewan Pengarah IKA UIN Sultanah Nahrasiyah sekaligus akademisi, menilai gagasan tersebut sangat relevan dengan kondisi ekonomi masyarakat saat ini. Menurutnya, kisah Nabi Yusuf menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi harus dibangun melalui perencanaan, pengelolaan sumber daya dan keberpihakan terhadap ketahanan masyarakat.
Yang menarik dari buku ini adalah bagaimana kisah Nabi Yusuf diterjemahkan dalam perspektif fiskal. Ketika ancaman krisis pangan datang, yang dilakukan bukan sekadar berdoa dan menunggu, tetapi menyusun strategi, mengelola sumber daya dan mempersiapkan masyarakat menghadapi masa sulit. Ini pelajaran penting bagi pengelolaan ekonomi hari ini,” kata Dr. Bukhari.
Ia menilai penguatan ekonomi masyarakat harus menjadi bagian utama dari kebijakan pemerintah. Anggaran negara dan daerah semestinya tidak hanya habis untuk belanja administratif, tetapi juga diarahkan pada sektor yang mampu menciptakan kemandirian ekonomi, memperkuat pangan, membuka lapangan kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat.
Kalau kita belajar dari Nabi Yusuf, fiskal bukan sekadar soal angka dalam APBN atau APBD. Di balik angka itu ada kehidupan masyarakat. Anggaran harus mampu menjaga ketahanan pangan, memperkuat ekonomi rakyat dan menjadi instrumen menghadapi krisis,” ujarnya.
Menurut Dr. Bukhari, konsep tersebut sangat relevan bagi daerah yang memiliki sumber daya alam besar. Kekayaan alam tidak akan banyak berarti apabila masyarakat di sekitarnya tetap lemah secara ekonomi. Karena itu, kebijakan fiskal harus mampu menghubungkan sumber daya daerah dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ia juga mengapresiasi kehadiran Cucun Ahmad Syamsurijal di UIN Sultanah Nahrasiyah. Kehadiran Wakil Ketua DPR RI sekaligus penulis buku tersebut dinilai memberikan ruang akademik yang penting bagi mahasiswa, dosen dan alumni untuk melihat persoalan fiskal dari perspektif yang lebih luas.
Kami tentu memberikan apresiasi kepada Pak Cucun yang telah hadir di UIN Sultanah Nahrasiyah dan berbagi pemikiran. Ini bukan hanya bedah buku, tetapi juga ruang untuk membicarakan bagaimana ekonomi, fiskal dan kepemimpinan dapat diarahkan untuk kepentingan masyarakat,” kata Dr. Bukhari.
Ia berharap diskusi tersebut menjadi pemantik bagi perguruan tinggi dan alumni untuk ikut memikirkan persoalan ekonomi daerah. Kampus, kata dia, tidak boleh hanya menghasilkan gagasan di ruang akademik, tetapi juga harus mampu menawarkan pemikiran yang dapat menjawab persoalan masyarakat.
Dalam konteks IKA UIN Sultanah Nahrasiyah periode 2026–2030, semangat tersebut juga dinilai penting. Alumni dapat mengambil peran melalui pendidikan, kewirausahaan, pendampingan masyarakat dan jejaring ekonomi yang memperkuat hubungan antara kampus dengan dunia nyata.
Kisah Nabi Yusuf akhirnya bukan hanya cerita tentang masa lalu. Ia menghadirkan pelajaran bahwa krisis harus dihadapi dengan ilmu, perencanaan dan tata kelola yang amanah. Ekonomi yang kuat tidak lahir karena kebetulan, tetapi melalui perencanaan yang matang, pengelolaan sumber daya yang tepat dan keberanian menempatkan orang yang memiliki kemampuan pada posisi yang membutuhkan amanah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....