Belajar Toleransi dan Persahabatan Indonesia–Malaysia melalui Dunia Broadcast
- 16 Sep 2026 08:14 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe-Live program Spada (Selamat Pagi Teman Pro 2) di 95,2 RRI Pro 2 Fm Lhokseumawe kemarin, 15 Agustus 2026 hadir sedikit berbeda dan spesial setelah mendapat kunjungan mahasiswa Universitas Islam Selangor (UIS) Malaysia, sekaligus menjadi momentum menarik untuk belajar tentang toleransi, budaya, dan persahabatan antara Indonesia dan Malaysia. Farah Wahida Bin Othman atau Farah serta Muhammad Nurhafiyuddeen Bin Rajudin atau Hafi, yang merupakan mahasiswi dan eks mahasiswa UIS Malaysia, berkesempatan mengunjungi RRI Pro 2 FM Lhokseumawe, sekaligus di wawancarai oleh Eghi Poetra dalam program Spada.
Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi pengalaman dalam mengenal dunia broadcasting, tetapi juga membuka ruang pertukaran cerita mengenai kehidupan dan kebiasaan masyarakat di kedua negara. Farah yang telah empat kali berkunjung ke Aceh mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat, khususnya masyarakat Aceh. Ia juga merasa takjub dengan sejumlah kebiasaan lokal, salah satunya mengenai adanya batas jam tertentu bagi perempuan pada malam hari di beberapa tempat. Selain itu, keberagaman kuliner Aceh menjadi pengalaman tersendiri bagi Farah. Ia secara khusus menyebut Mie Aceh di Lhokseumawe memiliki cita rasa dan karakter yang berbeda dengan Mie Aceh yang selama ini ia temui dan konsumsi di Malaysia.
Pengalaman serupa juga dirasakan Hafi yang telah dua kali berkunjung ke Aceh. Baginya, perjalanan ke Aceh memberikan kesempatan untuk mengenal lebih dekat budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia. Ia juga melihat adanya kemiripan sekaligus perbedaan dalam berbagai hal antara Indonesia dan Malaysia. Keindahan Sabang menjadi salah satu objek wisata yang menarik perhatian mereka. Farah menilai panorama Sabang sangat indah dan memiliki daya tarik yang dapat dibandingkan dengan Langkawi sebagai salah satu destinasi wisata terkenal di Malaysia.
Kunjungan Farah dan Hafi ke RRI Pro 2 FM Lhokseumawe sekaligus memperkuat ketertarikan mereka untuk konsisten menekuni dunia broadcasting. Keduanya memiliki latar belakang pendidikan yang berkaitan dengan bidang tersebut, sehingga pengalaman berada langsung di lingkungan radio menjadi pembelajaran tersendiri. Pertukaran pengalaman seperti ini menunjukkan bahwa perbedaan budaya bukan penghalang untuk saling memahami, melainkan kesempatan untuk belajar toleransi, memperluas wawasan, dan mempererat hubungan masyarakat Indonesia dan Malaysia melalui komunikasi serta persahabatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....