Taman Para Sultan dan Tantangan Merawat Sejarah Pasai

  • 13 Sep 2026 14:55 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Aceh Utara - Sejarah Kesultanan Samudra Pasai kembali dibawa lebih dekat kepada masyarakat melalui stan “Taman Para Sultan” pada Piasan Pase 2026 di Kabupaten Aceh Utara. Tidak sekadar menampilkan benda bersejarah, ruang edukasi tersebut menjadi salah satu cara memperkenalkan kembali tokoh dan peninggalan Samudra Pasai kepada generasi muda.

Stan yang dihadirkan Museum Islam Samudra Pasai di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara itu menampilkan dokumentasi nisan berinskripsi, informasi mengenai para sultan, serta sejumlah replika peninggalan sejarah.

Para pengunjung, termasuk pelajar, diajak mengenal nama dan periode pemerintahan sejumlah penguasa Samudra Pasai melalui informasi yang disusun secara visual.

Penjaga Stan Taman Para Sultan, Karimah, mengatakan pelajar menjadi salah satu kelompok yang datang mengunjungi stan tersebut selama Piasan Pase berlangsung.

“Para pelajar yang didampingi dewan gurunya turut diperkenalkan kepada mereka siapa saja tokoh Kesultanan Samudra Pasai,” kata Karimah, Kamis, 10 September 2026.

Upaya tersebut menjadi relevan ketika melihat data kunjungan Museum Islam Samudera Pasai. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mencatat museum tersebut menerima 11.054 pengunjung lokal dan 54 pengunjung mancanegara sepanjang 2024, atau total 11.108 pengunjung dalam satu tahun.

Angka tersebut menunjukkan peninggalan sejarah Samudra Pasai masih memiliki daya tarik bagi masyarakat. Namun, jumlah kunjungan belum otomatis menunjukkan sejauh mana sejarah tersebut dipahami, terutama oleh generasi muda.

Dalam kajian pendidikan sejarah, museum ditempatkan sebagai salah satu sumber belajar yang dapat membantu siswa memperoleh pengalaman langsung terhadap peninggalan sejarah. Sejumlah penelitian mengenai pemanfaatan museum dalam pembelajaran juga mengaitkannya dengan peningkatan minat belajar sejarah peserta didik.

Artinya, museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan benda lama. Koleksi berupa nisan, artefak, dokumen, maupun replika dapat menjadi media untuk menghubungkan pembelajaran di ruang kelas dengan bukti sejarah yang dapat diamati secara langsung.

Konsep tersebut semakin relevan dengan gagasan “Living Museum” yang dibahas dalam seminar dan diseminasi kajian Kesultanan Samudra Pasai di Aceh Utara, 9 September 2026.

Akademisi UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Saifuddin Dhuhri, dalam forum tersebut mengangkat tema “Living Museum: Dari Warisan Sejarah Menjadi Ruang Belajar, Ruang Kebudayaan, dan Ruang Pembangunan”.

Konsep itu menempatkan warisan sejarah bukan hanya sebagai objek yang dilihat, tetapi sebagai bagian dari proses pembelajaran, kebudayaan dan pembangunan masyarakat.

Dalam konteks Samudra Pasai, pendekatan tersebut menjadi penting karena peninggalan sejarahnya tersebar tidak hanya dalam museum, tetapi juga pada kompleks makam, batu nisan, situs permukiman, dan berbagai tinggalan arkeologis lainnya.

Museum Islam Samudera Pasai sendiri dibangun secara bertahap sejak 2011 hingga 2016. Museum tersebut memiliki luas bangunan sekitar 500 meter persegi dan menyimpan koleksi peninggalan yang berkaitan dengan sejarah Samudera Pasai, dengan koleksi yang diperkirakan mencapai sekitar 250 jenis barang.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa peninggalan Samudera Pasai masih menjadi objek kajian sejarah dan arkeologi. Nisan-nisan berinskripsi, misalnya, menjadi salah satu sumber penting untuk membaca perkembangan pemerintahan dan masyarakat pada masa Kesultanan Samudera Pasai.

Karena itu, pengenalan sejarah melalui Taman Para Sultan tidak berhenti pada kegiatan mengenalkan nama-nama sultan. Ada persoalan yang lebih besar, yakni bagaimana peninggalan tersebut dapat dipahami generasi sekarang dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Piasan Pase 2026 yang berlangsung pada 7 hingga 13 September menjadi salah satu ruang untuk menjawab tantangan tersebut. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mengusung kegiatan itu dengan tema “Merawat Tradisi Pasai”, sekaligus menjadikan sejarah dan kebudayaan sebagai bagian dari ruang publik.

Bagi generasi muda, pendekatan semacam Taman Para Sultan dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal sejarah lokal melalui pengalaman yang lebih konkret. Nama-nama yang sebelumnya hanya ditemukan dalam buku pelajaran dapat dikaitkan dengan nisan, artefak, situs dan cerita sejarah yang berada di lingkungan mereka sendiri.

Pada akhirnya, tantangan pelestarian Samudra Pasai bukan hanya bagaimana menyelamatkan benda-benda bersejarah dari kerusakan. Tantangan lainnya adalah memastikan generasi yang hidup ratusan tahun setelah masa kejayaan Pasai masih memiliki alasan untuk mengenal, mempelajari dan menjaga peninggalan tersebut.

Sebab, sejarah yang hanya tersimpan di museum berisiko menjadi sekadar koleksi. Sebaliknya, ketika sejarah menjadi ruang belajar dan bagian dari kehidupan masyarakat, peninggalan masa lalu dapat terus memiliki makna bagi generasi yang akan datang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....