Pemulia Jame di Era Modern : Masih Relevankah dalam Kehidupan Masyarakat Aceh?
- 06 Sep 2026 09:52 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa tradisi pemulia jame atau memuliakan tamu merupakan salah satu nilai budaya yang telah lama melekat dalam kehidupan masyarakat Aceh. Sikap ramah kepada tamu, menyambut dengan sopan, menawarkan makanan dan minuman, serta memberikan pelayanan terbaik menjadi bagian dari adat dan etika sosial.
Di tengah kehidupan modern yang semakin praktis dan individualistis, tradisi ini tetap memiliki tempat penting karena mencerminkan karakter masyarakat Aceh yang menjunjung tinggi nilai kesopanan, persaudaraan, dan kebersamaan.
Dalam live program Spada Selamat Pagi Teman Pro, di 95, 2 RRI Pro 2 Fm Lhokseumawe, 5 September 2026, Eghi Poetra sebagai penyiar memjelaskan, bahwa kehidupan sehari-hari, pemulia jame tidak harus selalu diwujudkan melalui jamuan yang mewah.
Menyambut tamu dengan senyum, mempersilakan duduk, berbicara dengan santun, dan menunjukkan kepedulian sudah menjadi bentuk sederhana dari memuliakan orang lain. Nilai tersebut juga dapat diterapkan ketika menerima tetangga, kerabat, teman, maupun orang yang baru dikenal. Dengan demikian, pemulia jame bukan sekadar tradisi ketika ada acara besar, tetapi dapat menjadi kebiasaan yang memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Bagi generasi muda Aceh, mempertahankan pemulia jame juga menjadi tantangan tersendiri. Perkembangan teknologi dan media sosial telah mengubah cara orang berkomunikasi dan berinteraksi. Namun, modernisasi tidak seharusnya membuat nilai-nilai budaya ditinggalkan. Justru, generasi muda dapat membawa semangat pemulia jame ke dalam kehidupan masa kini, misalnya dengan tetap menghormati orang yang lebih tua, bersikap ramah kepada pendatang, membantu sesama, serta menjaga tutur kata, baik dalam pergaulan langsung maupun di dunia digital.
Pemulia jame masih sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari di Aceh. Tradisi tersebut bukan hanya warisan budaya, tetapi juga mengandung nilai kemanusiaan yang universal, yaitu menghargai dan menghormati orang lain.
Di tengah perubahan zaman, bentuknya boleh menyesuaikan keadaan, tetapi nilai dasarnya perlu dipertahankan. Jika masyarakat Aceh, khususnya generasi muda, terus menghidupkan budaya memuliakan tamu dalam kehidupan sehari-hari, maka identitas dan karakter masyarakat Aceh akan tetap kuat tanpa harus menolak kemajuan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....