Nikmat Terbesar dalam Islam Menjaga Iman dengan Istiqamah dan Seimbang

  • 28 Agt 2026 15:46 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Nikmat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada seorang hamba bukan semata-mata harta, jabatan, kesehatan, maupun kesenangan dunia, melainkan nikmat Islam dan iman. Dengan menjadi seorang Muslim, manusia memiliki jalan untuk mengenal Allah SWT, mendekatkan diri kepada-Nya, serta menjalani kehidupan berdasarkan petunjuk-Nya.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ma'idah ayat 3: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” Ayat ini mengingatkan bahwa Islam merupakan nikmat yang sangat agung dan patut disyukuri.

Ustad H. Malik Ardhansyah, LC, dalam khotbah Jum'at 28 Agustus 2026 di mesjid Baiturrahman kota Lhokseumawe, menjelas bahwa menjadi seorang Muslim bukan hanya sebatas ucapan, identitas, atau pengakuan di lisan. Islam harus tercermin dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari, seakan seluruh diri kita “dicelupkan” dengan nilai-nilai Islam.

Rasulullah SAW mengajarkan agar seorang Muslim senantiasa beriman kepada Allah dan kemudian istiqamah. Dalam hadis riwayat Muslim, ketika seorang sahabat meminta nasihat yang mencukupinya, Rasulullah SAW bersabda: “Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” Istiqamah berarti berusaha konsisten berada di jalan kebaikan, baik ketika keadaan lapang maupun ketika menghadapi ujian.

Istiqamah dalam Islam juga tidak berarti meninggalkan seluruh urusan dunia. Justru karunia dunia yang Allah berikan dapat menjadi sarana untuk mendapatkan kebaikan akhirat. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qashash ayat 77: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” Kesehatan, waktu luang, keluarga, pekerjaan, ilmu, dan rezeki merupakan amanah yang seharusnya dimanfaatkan untuk kebaikan.

Rasulullah SAW juga mengingatkan tentang dua nikmat yang sering dilalaikan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang (HR. Bukhari).

Maka dari itu, kehidupan seorang Muslim hendaknya berjalan secara seimbang antara kebutuhan dunia dan persiapan menuju akhirat. Islam tidak mengajarkan seseorang untuk meninggalkan keluarga, pekerjaan, mencari nafkah, maupun kebutuhan dunia lalu hanya berdiam di masjid sepanjang waktu. Semua memiliki hak yang harus ditunaikan sesuai tuntunan syariat.

Dunia bukan tujuan akhir, tetapi tempat untuk mengumpulkan bekal menuju akhirat. Dengan iman yang terjaga, istiqamah dalam kebaikan, serta kemampuan menggunakan nikmat dunia untuk mendekat kepada Allah SWT, seorang Muslim dapat menjalani kehidupan dengan penuh syukur sekaligus tidak kehilangan arah menuju kehidupan yang kekal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....