Suhu Kota Makin Panas, Apakah Ruang Hijau Mulai Tak Cukup?
- 27 Agt 2026 11:10 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Pertumbuhan kawasan perkotaan dan semakin padatnya bangunan membuat persoalan suhu lingkungan menjadi perhatian. Permukaan beton, aspal dan bangunan yang menyerap panas dapat membuat kawasan perkotaan memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan wilayah di sekitarnya. Fenomena tersebut dikenal sebagai urban heat island atau pulau panas perkotaan.
Fenomena pulau panas terjadi ketika kawasan perkotaan memiliki lebih banyak permukaan yang menyerap dan menyimpan panas, sementara vegetasi dan lahan terbuka yang membantu mendinginkan lingkungan semakin terbatas. Kondisi tersebut dapat membuat suhu di kawasan perkotaan tetap tinggi, terutama pada malam hari.
Ruang terbuka hijau menjadi salah satu elemen penting dalam mengurangi dampak tersebut. Badan Pusat Statistik mendefinisikan RTH perkotaan sebagai ruang terbuka yang ditumbuhi tanaman dan vegetasi yang memberikan manfaat ekologis, sosial, budaya hingga ekonomi bagi masyarakat.
Secara regulasi, proporsi ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan ditargetkan paling sedikit 30 persen dari luas wilayah kota, yang terdiri dari 20 persen RTH publik dan 10 persen RTH privat. Ketentuan tersebut tercantum dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
Namun, persoalannya bukan hanya mengenai berapa luas ruang hijau yang tersedia.
Penelitian mengenai urban heat island menunjukkan bahwa lokasi, kerapatan vegetasi, jenis tutupan lahan dan pola pembangunan turut menentukan kemampuan suatu kawasan dalam mengendalikan suhu.
Artinya, sebuah kota dapat memiliki taman atau ruang hijau, tetapi keberadaannya belum tentu cukup untuk mengurangi panas apabila vegetasi terkonsentrasi di wilayah tertentu sementara kawasan padat bangunan tetap minim pepohonan.
Vegetasi membantu menurunkan suhu melalui naungan dan proses evapotranspirasi, yaitu pelepasan uap air dari tanaman ke atmosfer. Proses tersebut menggunakan energi panas sehingga dapat membantu mendinginkan lingkungan sekitar.
Sebaliknya, beton dan aspal memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan panas. Pada siang hari permukaan tersebut menerima radiasi matahari, kemudian melepaskan kembali panas yang tersimpan ketika suhu lingkungan mulai menurun.
Kondisi itu menjadi salah satu alasan kawasan perkotaan dapat tetap terasa panas setelah matahari terbenam.
Perubahan tutupan lahan juga menjadi faktor penting. Ketika lahan terbuka dan vegetasi berubah menjadi bangunan, jalan atau area parkir, kemampuan kawasan untuk menyerap air dan mendinginkan udara ikut berkurang.
Karena itu, persoalan suhu perkotaan tidak cukup diatasi hanya dengan menambah taman.
Ruang hijau perlu ditempatkan pada kawasan yang membutuhkan perlindungan dari panas, terhubung dengan jaringan pepohonan dan jalur hijau, serta dipadukan dengan perencanaan bangunan dan jalan yang mempertimbangkan sirkulasi udara.
Data BPS menunjukkan bahwa pemerintah daerah di berbagai wilayah telah melakukan pendataan RTH berdasarkan jenis, luas dan lokasi. Pendataan tersebut menjadi penting karena luas wilayah hijau perlu dibandingkan dengan perkembangan kawasan perkotaan untuk melihat kecukupannya secara lebih objektif.
Dalam penelitian, kondisi urban heat island dapat dianalisis menggunakan citra satelit untuk membandingkan suhu permukaan dengan tutupan vegetasi. Salah satu pendekatan yang umum digunakan adalah membandingkan Land Surface Temperature (LST) dengan indeks vegetasi seperti Normalized Difference Vegetation Index (NDVI).
Jika kawasan dengan nilai vegetasi rendah secara konsisten menunjukkan suhu permukaan lebih tinggi, hubungan antara berkurangnya vegetasi dan peningkatan panas perkotaan dapat terlihat secara spasial.
Pendekatan tersebut memungkinkan pemerintah mengetahui bukan hanya berapa luas RTH yang dimiliki kota, tetapi juga bagian mana yang paling panas dan apakah kawasan tersebut memiliki vegetasi yang cukup.
Persoalan ini menjadi semakin penting karena perubahan iklim dapat meningkatkan risiko suhu ekstrem. Kondisi panas perkotaan dan kenaikan suhu akibat perubahan iklim dapat terjadi secara bersamaan sehingga menambah tekanan terhadap masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lansia, anak-anak dan pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Bagi masyarakat, dampaknya tidak hanya berupa rasa tidak nyaman. Suhu lingkungan yang lebih tinggi dapat meningkatkan kebutuhan pendinginan bangunan dan penggunaan energi, sementara paparan panas yang berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat panas.
Karena itu, keberadaan pohon dan ruang hijau di kota bukan hanya persoalan estetika.
Pohon merupakan bagian dari infrastruktur lingkungan yang membantu mengendalikan suhu, menyediakan keteduhan dan menjaga kualitas lingkungan perkotaan.
Dengan demikian, pertanyaan mengenai apakah ruang hijau kota sudah cukup tidak dapat dijawab hanya dengan menghitung jumlah taman.
Yang perlu dilihat adalah luas, sebaran, kualitas vegetasi, kepadatan bangunan dan perubahan suhu di masing-masing kawasan.
Jika kota terus berkembang sementara vegetasi tidak mampu mengikuti perubahan tutupan lahannya, fenomena pulau panas perkotaan berpotensi semakin kuat.
Pada akhirnya, kota yang lebih nyaman bukan hanya kota dengan lebih banyak bangunan dan jalan, tetapi juga kota yang mampu mempertahankan ruang bagi pepohonan dan vegetasi di tengah perkembangan kawasan perkotaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....