Konten Pendek Mengubah Cara Orang Mendapatkan Berita

  • 27 Agt 2026 11:10 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Cara masyarakat mendapatkan informasi berita terus berubah seiring meningkatnya penggunaan media sosial dan platform berbasis video. TikTok, Instagram Reels dan YouTube Shorts kini tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengetahui berbagai peristiwa terkini.

Perubahan tersebut terlihat dalam Digital News Report 2026 yang diterbitkan Reuters Institute for the Study of Journalism. Laporan tersebut mencatat 64 persen masyarakat Indonesia mendapatkan berita melalui platform media sosial dan pesan, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Indonesia juga termasuk negara dengan penggunaan TikTok untuk berita yang telah mencapai lebih dari 40 persen.

Perubahan pola konsumsi berita tersebut terutama terlihat pada kelompok usia muda. Mereka semakin terbiasa menemukan informasi melalui video pendek yang muncul di lini masa dibandingkan secara sengaja membuka halaman utama portal berita.

Temuan Reuters Institute menunjukkan hampir 44 persen responden berusia 18 hingga 24 tahun secara global menjadikan media sosial dan platform video sebagai sumber utama berita. Pada kelompok usia tersebut, kecenderungan mengakses langsung situs atau aplikasi berita jauh lebih rendah.

Di Indonesia, perubahan tersebut juga terlihat dari meningkatnya peran TikTok sebagai sumber berita. Dalam Digital News Report 2025, sebanyak 34 persen responden Indonesia mengatakan menggunakan TikTok untuk mendapatkan berita, naik lima poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024 angkanya berada di 29 persen.

Kondisi tersebut membuat berita tidak lagi selalu dicari secara sengaja. Sebuah peristiwa dapat diketahui masyarakat ketika video mengenai peristiwa tersebut muncul di lini masa, dibagikan pengguna lain atau direkomendasikan algoritma platform.

Format video pendek juga mengubah cara informasi disampaikan. Berita yang sebelumnya disajikan dalam artikel panjang, siaran radio atau paket berita televisi kini dapat diringkas menjadi video berdurasi kurang dari satu menit.

Reuters Institute mencatat konsumsi video sosial secara global meningkat dari 52 persen pada 2020 menjadi 65 persen pada 2025. Perkembangan tersebut menunjukkan video semakin menjadi bagian penting dalam cara masyarakat mengonsumsi informasi.

Namun, kemudahan tersebut juga membawa persoalan baru bagi dunia jurnalistik.

Video pendek memiliki keterbatasan ruang untuk menjelaskan konteks, kronologi dan berbagai sudut pandang sebuah peristiwa. Informasi yang kompleks berisiko dipadatkan menjadi beberapa detik sehingga masyarakat hanya memperoleh bagian tertentu dari sebuah berita.

Selain itu, sistem rekomendasi platform membuat setiap pengguna dapat menerima informasi yang berbeda berdasarkan aktivitas dan minat masing-masing. Kondisi tersebut dapat membuat masyarakat lebih sering mendapatkan informasi yang sesuai dengan kebiasaan konsumsi sebelumnya.

Persoalan akurasi juga menjadi perhatian. Reuters Institute dalam laporan 2026 menyoroti pertumbuhan media berbasis media sosial yang sebagian di antaranya mengambil atau mengolah ulang berita dari media resmi. Kondisi tersebut dapat membuat batas antara produk jurnalistik, konten kreator dan informasi yang tidak terverifikasi semakin sulit dibedakan.

Meski demikian, perubahan tersebut tidak berarti radio, televisi dan portal berita langsung kehilangan fungsi.

Laporan Reuters Institute 2025 menyebut media online dan media sosial menjadi sumber berita paling populer di Indonesia dalam sampel masyarakat yang lebih urban dan terkoneksi internet. Namun, televisi dan radio tetap penting bagi jutaan masyarakat yang tidak sepenuhnya terhubung dengan internet.

Perbedaan karakter tersebut membuat masing-masing media memiliki keunggulan tersendiri. Video pendek unggul dalam kecepatan dan daya tarik visual, portal berita memiliki ruang lebih luas untuk memberikan konteks, televisi dapat menyajikan laporan audiovisual secara lebih mendalam, sementara radio memiliki keunggulan dalam fleksibilitas dan kedekatan dengan pendengar.

Perubahan pola konsumsi berita juga membuat organisasi media harus menyesuaikan cara mendistribusikan informasi. Berita tidak lagi cukup hanya dipublikasikan melalui satu kanal, tetapi perlu hadir di berbagai platform dengan menyesuaikan karakteristik audiens.

Namun, perubahan format tidak seharusnya menghilangkan prinsip dasar jurnalistik.

Verifikasi informasi, keberimbangan, akurasi dan konteks tetap menjadi bagian penting meskipun berita dikemas dalam video berdurasi singkat.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persaingan media saat ini bukan hanya mengenai siapa yang paling cepat menyampaikan berita, tetapi juga siapa yang mampu menyampaikan informasi secara cepat tanpa kehilangan akurasi dan konteks.

Bagi masyarakat, perubahan tersebut juga menuntut kemampuan memilah informasi. Video yang muncul di TikTok atau Reels dapat menjadi pintu awal untuk mengetahui sebuah peristiwa, tetapi bukan berarti informasi tersebut selalu menjadi gambaran lengkap mengenai peristiwa yang terjadi.

Dengan semakin dominannya konten pendek dalam konsumsi berita, masa depan media kemungkinan bukan sepenuhnya tentang radio melawan TikTok, televisi melawan YouTube atau portal berita melawan Instagram.

Persoalannya adalah bagaimana berbagai media tersebut dapat beradaptasi dengan kebiasaan audiens baru tanpa meninggalkan fungsi utama jurnalistik: memberikan informasi yang akurat, terverifikasi dan memiliki konteks.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....