Mangrove Rusak, Apa yang Terjadi pada Pesisir?

  • 27 Agt 2026 11:12 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Kerusakan ekosistem mangrove tidak hanya mengancam keberadaan hutan di kawasan pesisir, tetapi juga dapat meningkatkan kerentanan pantai terhadap abrasi serta mengganggu habitat berbagai jenis satwa.

Kementerian Lingkungan Hidup mencatat Indonesia memiliki sekitar 3,45 juta hektare ekosistem mangrove berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2025. Luasan tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan ekosistem mangrove terbesar di dunia. Mangrove juga berfungsi sebagai pelindung garis pantai dari abrasi dan banjir rob, sekaligus menjadi habitat berbagai jenis biota.

Namun, luas kawasan tersebut tidak seluruhnya berada dalam kondisi optimal. Data Kementerian Lingkungan Hidup melalui Dashboard Ekosistem Mangrove menunjukkan sekitar 58 persen mangrove berada dalam kategori kerapatan baik, 32 persen berkategori sedang, dan 10 persen berkategori jarang. Kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat kawasan mangrove yang membutuhkan pemulihan dan pengelolaan lebih lanjut.

Kerusakan mangrove dapat berdampak langsung terhadap perlindungan alami kawasan pesisir. Akar mangrove membantu menahan sedimen dan meredam energi gelombang sebelum mencapai daratan. Ketika vegetasi tersebut berkurang, kemampuan alami pantai dalam menghadapi gelombang dan proses pengikisan dapat ikut menurun.

Penelitian mengenai kawasan pesisir Aceh juga menemukan persoalan tersebut. Studi di wilayah Birem Bayeun dan Rantau Selamat, Aceh Timur, menyebut penurunan kualitas dan kuantitas mangrove dapat berdampak pada meningkatnya abrasi, menurunnya hasil tangkapan perikanan pantai dan meningkatnya intrusi air laut. Penelitian tersebut juga mengidentifikasi alih fungsi mangrove menjadi tambak, perkebunan, permukiman serta penebangan sebagai sejumlah faktor penyebab kerusakan.

Persoalan serupa ditemukan dalam penelitian di Kuala Langsa, Aceh. Penelitian yang dilakukan menggunakan pemetaan berbasis Normalized Difference Vegetation Index atau NDVI tersebut mengkaji pola kerusakan ekosistem mangrove yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat serta kondisi keanekaragaman vegetasinya.

Dampak kerusakan mangrove juga tidak berhenti pada persoalan abrasi. Hilangnya vegetasi dapat mengurangi kualitas habitat bagi organisme yang bergantung pada ekosistem pesisir.

Penelitian terbaru mengenai biodiversitas mangrove di Aceh menemukan 16 spesies fauna dari 491 individu yang berasal dari lima kelompok, yakni Pisces, Aves, Reptilia, Amphibia dan Mammalia. Penelitian tersebut juga menemukan adanya perbedaan tingkat keanekaragaman antar lokasi yang dipengaruhi kondisi lingkungan serta tekanan aktivitas manusia.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa mangrove bukan sekadar kumpulan pohon di tepi pantai. Ekosistem tersebut menjadi bagian dari rantai kehidupan berbagai jenis fauna yang memanfaatkan kawasan mangrove sebagai tempat mencari makan, berlindung maupun berkembang biak.

Di wilayah Aceh, penelitian sebelumnya di pesisir Banda Aceh dan Aceh Besar juga mengidentifikasi keberadaan Rhizophora mucronata dan Avicennia marina serta menemukan kerusakan pada bagian batang dan daun tanaman mangrove. Peneliti menilai diperlukan penanganan serius untuk menjaga kelestarian sumber daya genetik mangrove di kawasan pesisir Aceh.

Pemerintah saat ini juga memperkuat kebijakan perlindungan ekosistem mangrove. Kementerian Lingkungan Hidup pada 2026 mempercepat penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove atau RPPEM di sejumlah provinsi. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat perlindungan pesisir dari abrasi, banjir rob, intrusi air laut dan dampak perubahan iklim.

Bagi kawasan pesisir, keberadaan mangrove dengan demikian memiliki fungsi yang berlapis. Vegetasi ini berperan sebagai pelindung alami pantai sekaligus menjaga habitat berbagai organisme dan mendukung kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya pesisir.

Karena itu, kerusakan mangrove tidak cukup dilihat sebagai berkurangnya jumlah pohon. Ketika tutupan mangrove menurun, yang ikut berubah adalah kemampuan pesisir dalam menghadapi tekanan gelombang, kondisi habitat dan keseimbangan ekosistem.

Pemulihan mangrove pun tidak hanya berkaitan dengan menanam kembali pohon, tetapi perlu mempertimbangkan kondisi hidrologi, jenis vegetasi, tekanan aktivitas manusia serta kesesuaian kawasan agar ekosistem dapat kembali berfungsi secara alami.

Dengan demikian, menjaga mangrove berarti menjaga lebih dari sekadar garis pantai. Di balik akar yang terlihat sederhana, terdapat sistem perlindungan alami dan habitat yang ikut menentukan ketahanan kawasan pesisir menghadapi perubahan lingkungan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....