Musim Kemarau El Niño: Apakah Aceh Ikut Terancam Karhutla?

  • 27 Agt 2026 11:22 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Aceh - Fenomena El Niño yang mencapai kategori sangat kuat pada Agustus 2026 kembali menempatkan Indonesia dalam ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Namun, bagi Aceh, persoalannya tidak sesederhana pertanyaan apakah El Niño menyebabkan kebakaran.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kondisi iklim yang semakin kering sudah cukup untuk meningkatkan risiko karhutla di Aceh?

Pertanyaan tersebut menjadi relevan karena data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan adanya perubahan signifikan pada pola curah hujan Indonesia selama periode El Niño berlangsung.

Data Iklim Menunjukkan Sinyal Kekeringan

Analisis BMKG pada Dasarian I Agustus 2026 mencatat nilai indeks ENSO pada wilayah Nino 3.4 mencapai +2,77, meningkat dari +2,20 pada Juli. Nilai tersebut menunjukkan El Niño berada pada intensitas sangat kuat.

Pada saat yang sama, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) juga berada pada nilai positif, yakni +0,457.

Kombinasi El Niño dan IOD positif menjadi perhatian karena keduanya dapat mengurangi pasokan uap air menuju Indonesia dan mendorong terbentuknya kondisi atmosfer yang lebih kering.

Dampaknya mulai terlihat pada pola curah hujan.

BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami curah hujan di bawah normal pada Agustus 2026. Bahkan, sekitar 96,28 persen wilayah Indonesia diprediksi memiliki sifat hujan di bawah normal.

Yang menarik, sejumlah wilayah di Aceh juga masuk dalam daftar daerah yang diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal, antara lain Aceh Besar, Banda Aceh, Sabang, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Tengah, Bireuen, Bener Meriah, Gayo Lues hingga Aceh Timur.

Data tersebut memberikan satu sinyal penting: Aceh tidak terbebas dari pengaruh musim kemarau dan El Niño.

Tetapi Aceh Tidak Sepenuhnya Kering

Di sinilah kondisi Aceh menjadi menarik jika dilihat dari perspektif penelitian.

Sebab, indikator kekeringan tidak selalu berarti seluruh wilayah Aceh mengalami kondisi kering pada waktu yang sama.

BMKG mencatat Aceh masih mengalami hujan dengan intensitas cukup tinggi. Pada periode 17–19 Agustus 2026, misalnya, curah hujan harian di Aceh mencapai 69 milimeter.

Untuk periode 24–27 Agustus, Aceh juga masih diprediksi memiliki potensi hujan dengan intensitas sedang.

Fenomena tersebut dipengaruhi dinamika atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin dan Mixed-Rossby-Gravity yang aktif di sebagian Aceh dan Sumatera Utara. Faktor topografi serta kondisi perairan sekitar Sumatera juga dapat membantu pembentukan awan hujan.

Artinya, terdapat anomali menarik: secara klimatologis Aceh menghadapi kecenderungan lebih kering, tetapi secara meteorologis hujan lokal masih dapat terjadi.

Dari Kekeringan ke Karhutla

Lalu, apakah kondisi tersebut otomatis meningkatkan karhutla?

Tidak selalu.

Dalam perspektif kebencanaan, hubungan antara El Niño dan karhutla lebih tepat dilihat sebagai sebuah rantai risiko.

El Niño dapat mengurangi curah hujan. Curah hujan yang rendah kemudian meningkatkan kekeringan tanah dan membuat vegetasi lebih mudah terbakar. Namun, kebakaran tetap membutuhkan sumber api.

Karena itu, risiko karhutla dapat dipahami sebagai hasil interaksi antara anomali iklim, kondisi bahan bakar, tutupan lahan, tingkat kekeringan dan aktivitas manusia.

Dengan kata lain, El Niño tidak secara langsung “menciptakan api”. El Niño lebih berperan dalam menciptakan lingkungan yang membuat api lebih mudah muncul dan menyebar.

Kondisi ini menjadi semakin penting karena BMKG sendiri telah meningkatkan langkah mitigasi karhutla. Sepanjang 2026, BMKG telah melaksanakan 17 operasi modifikasi cuaca untuk mitigasi karhutla di berbagai wilayah, termasuk Aceh. Operasi modifikasi cuaca di Aceh sebelumnya dilaksanakan pada 20–26 Juli 2026.

Kalau Dijadikan Penelitian, Apa yang Harus Dilihat?

Fenomena Aceh selama El Niño 2026 sebenarnya bisa menjadi objek penelitian yang menarik.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah melihat hubungan antara curah hujan, jumlah hari tanpa hujan, tingkat kekeringan dan kemunculan hotspot.

Secara sederhana, pertanyaannya:

Ketika curah hujan Aceh turun di bawah normal, apakah jumlah hotspot juga meningkat?

Jika jawabannya iya dan pola tersebut konsisten selama beberapa periode, maka terdapat indikasi hubungan antara kondisi meteorologis dan peningkatan risiko karhutla.

Sebaliknya, apabila curah hujan turun tetapi hotspot tidak meningkat secara signifikan, penelitian perlu melihat faktor lain, seperti jenis tutupan lahan, kelembapan vegetasi, aktivitas pembukaan lahan atau efektivitas pencegahan kebakaran.

Dengan pendekatan tersebut, karhutla tidak lagi hanya dilihat sebagai persoalan “musim panas”, tetapi sebagai persoalan yang dapat dianalisis menggunakan data iklim dan lingkungan.

Aceh dalam Posisi Waspada

Kondisi saat ini menunjukkan Aceh belum dapat disebut sebagai wilayah yang sepenuhnya mengalami kekeringan ekstrem.

Namun, indikator iklim memberikan alasan untuk tetap waspada.

El Niño berada pada kategori sangat kuat, IOD berada pada fase positif, sejumlah wilayah Aceh diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal, sementara musim kemarau masih berlangsung. Pada saat yang sama, hujan lokal masih mampu terjadi sehingga kondisi setiap wilayah tidak seragam.

Justru ketidakseragaman tersebut yang membuat pemantauan menjadi penting.

Sebab ancaman karhutla tidak hanya ditentukan oleh seberapa panas suatu wilayah, tetapi oleh seberapa kering lahannya, berapa lama tanpa hujan, apa jenis vegetasinya, dan apakah terdapat sumber api.

Karena itu, memasuki fase El Niño sangat kuat, Aceh membutuhkan pemantauan yang tidak hanya berorientasi pada munculnya kebakaran, tetapi juga pada indikator sebelum kebakaran terjadi.

Dengan kata lain, penelitian terhadap hubungan El Niño–curah hujan–kekeringan–hotspot dapat menjadi salah satu cara untuk mengetahui apakah Aceh benar-benar sedang menuju peningkatan risiko karhutla atau justru memiliki faktor lokal yang mampu menahan dampak El Niño.

Api mungkin muncul dalam hitungan menit. Tetapi tanda-tanda risikonya dapat dibaca jauh sebelum itu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....