Kebakaran Way Kambas Berulang, Penelitian Ungkap Faktor Risiko Karhutla
- 27 Agt 2026 11:21 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lampung - Kebakaran hutan yang kembali terjadi di kawasan Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur, menimbulkan pertanyaan lebih jauh mengenai faktor yang membuat kawasan konservasi tersebut tetap rentan terhadap kebakaran, terutama ketika memasuki periode kering.
Kebakaran terjadi di wilayah Resor Kuala Penet sejak Jumat (21/8/2026) dan berhasil dipadamkan pada Sabtu (22/8/2026) sekitar pukul 19.00 WIB. Kementerian Kehutanan melaporkan area yang terdampak mencapai sekitar 673 hektare, meski angka tersebut masih dalam proses verifikasi. Berdasarkan pemantauan petugas, populasi gajah Sumatra di habitat alami maupun Pusat Konservasi Gajah berada jauh dari lokasi kebakaran dan tidak terdampak langsung.
Namun, kejadian tersebut tidak dapat hanya dilihat sebagai persoalan pemadaman api. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan merupakan fenomena yang dipengaruhi oleh kombinasi kondisi lingkungan dan aktivitas manusia.
Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca pada 2024 mengidentifikasi 15 variabel dominan yang dapat digunakan dalam pemodelan risiko kebakaran hutan dan lahan di kawasan gambut tropis. Variabel tersebut antara lain tutupan lahan, jarak dari jalan dan permukiman, kepadatan penduduk, indeks cuaca kebakaran, indeks kekeringan, curah hujan, kelembapan tanah, elevasi, serta jenis dan kedalaman gambut. Dari variabel tersebut, enam menunjukkan respons tinggi ketika divalidasi menggunakan data titik panas.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemunculan api tidak berdiri sendiri. Kondisi vegetasi yang mengering, rendahnya kelembapan tanah, periode tanpa hujan dan aktivitas manusia dapat saling berinteraksi sehingga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran.
Bukan Sekadar Masalah Musim Kemarau
Penelitian mengenai karhutla juga menunjukkan pentingnya kondisi air tanah dalam menentukan tingkat kerawanan kebakaran pada ekosistem gambut. Studi penginderaan jauh menemukan bahwa kedalaman muka air tanah dapat digunakan sebagai salah satu indikator peringatan dini karena gambut yang semakin kering memiliki risiko kebakaran lebih tinggi.
Artinya, meningkatnya risiko kebakaran pada musim kemarau seharusnya dapat dipantau sebelum api muncul. Data curah hujan, kelembapan tanah, indeks kekeringan, titik panas dan kondisi tutupan vegetasi dapat digunakan untuk mengidentifikasi wilayah yang memiliki risiko lebih tinggi.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan penelitian BRIN yang menunjukkan bahwa teknologi modifikasi cuaca tidak hanya dapat digunakan ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi dapat diarahkan lebih awal untuk membasahi wilayah gambut yang rentan terbakar. Dalam periode 2016–2020, penelitian tersebut mencatat penurunan intensitas karhutla yang ditandai dengan berkurangnya titik panas, luas area terbakar dan emisi karbon di sejumlah wilayah rawan.
Dampak Ekologis Lebih Luas
Persoalan kebakaran di kawasan konservasi juga tidak berhenti pada luas lahan yang terbakar. Api dapat mengubah struktur habitat, menghilangkan vegetasi dan memengaruhi keanekaragaman hayati.
Penelitian BRIN mengenai ekosistem hutan gambut, misalnya, menunjukkan bahwa kawasan yang rentan terbakar memiliki potensi kehilangan keanekaragaman organisme ketika terjadi kebakaran. Studi terhadap hutan lindung gambut Londerang di Jambi menemukan 39 spesies makrofungi yang menjadi bagian dari ekosistem tersebut.
Karena itu, angka 673 hektare dalam kebakaran Way Kambas tidak semata-mata menggambarkan luasan vegetasi yang terbakar. Area tersebut juga perlu dilihat berdasarkan jenis tutupan lahan, tingkat kerusakan vegetasi, perubahan habitat serta kemungkinan dampaknya terhadap ekosistem dalam jangka panjang.
Penelitian mengenai pemetaan area terbakar bahkan menempatkan informasi spasial sebagai bagian penting dalam menentukan kerusakan lingkungan, estimasi emisi karbon dan kebutuhan rehabilitasi pascakebakaran.
Kebakaran Way Kambas dengan demikian dapat menjadi momentum untuk memperkuat pendekatan pencegahan berbasis data. Pemantauan titik panas saja tidak cukup. Integrasi data cuaca, kelembapan tanah, kondisi vegetasi, tutupan lahan, aktivitas manusia dan citra satelit dapat membantu memetakan kawasan yang paling berisiko sebelum kebakaran berkembang menjadi bencana yang lebih luas.
Bagi kawasan konservasi seperti Way Kambas, pendekatan tersebut menjadi penting karena tujuan pengelolaan kawasan bukan hanya memadamkan api, tetapi juga menjaga ekosistem dan habitat satwa dalam jangka panjang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....