Taushiyah Subuh Umat Diminta Berhati-hati Menyampaikan Hadist

  • 27 Agt 2026 11:20 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID Lhokseumawe— Jamaah Masjid Baiturrahman Lhokseumawe mengikuti taushiyah Subuh yang disampaikan Prof. Dr. Husni Mubaraq, Lc., MA, Kamis, 27 agustus2026. Dalam taushiyahnya, ia mengingatkan pentingnya menjaga kemurnian Al-Qur’an dan memastikan hadis yang disampaikan kepada masyarakat memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Prof. Husni menjelaskan, pada masa awal Islam Rasulullah SAW pernah melarang para sahabat menulis sesuatu dari beliau selain Al-Qur’an. Larangan tersebut bertujuan agar perkataan manusia tidak bercampur dengan wahyu Allah SWT sehingga lafaz Al-Qur’an tetap terjaga kemurniannya.

Menurutnya, setelah Rasulullah SAW wafat, umat Islam menghadapi berbagai perpecahan dan fitnah. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran munculnya hadis-hadis yang tidak benar atau bahkan dibuat-buat untuk kepentingan kelompok tertentu.

Ia menjelaskan, pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, dilakukan upaya pengumpulan dan pencatatan hadis secara resmi. Selanjutnya berkembang ilmu hadis dan ilmu musthalah hadis yang digunakan para ulama untuk menilai keabsahan sebuah hadis, termasuk melalui penelitian sanad dan kredibilitas para perawinya.

Prof. Husni menyebutkan, para ulama seperti Imam Syafi’i dan Imam Bukhari memiliki peran besar dalam pengembangan ilmu hadis. Imam Bukhari, misalnya, dikenal memiliki hafalan hadis yang sangat banyak, namun hanya hadis yang memenuhi standar tertentu yang dimasukkan ke dalam Shahih Bukhari. Di antara standar penting tersebut adalah sanad yang bersambung serta perawi yang memiliki sifat adil dan kuat dalam menjaga hafalannya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa hadis memiliki tingkatan, antara lain mutawatir, shahih, hasan, dhaif, hingga hadis palsu. Menurutnya, hadis palsu dapat muncul antara lain akibat fanatisme dan perpecahan kelompok. Karena itu, masyarakat diminta tidak sembarangan menyampaikan hadis, termasuk dengan alasan hadis tersebut digunakan untuk fadilah amal.

“Al-Qur’an adalah pondasi utama, sedangkan hadis shahih menjadi penjelasnya. Keduanya tidak dapat dipisahkan,” jelasnya.

Ia mengajak jamaah untuk mempelajari sejarah Islam dan ilmu hadis agar kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak tercampur dengan informasi yang tidak benar atau dusta atas nama beliau. Rasulullah SAW sendiri memberikan peringatan keras terhadap orang yang sengaja berdusta atas namanya.

Dalam taushiyah tersebut juga disampaikan hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang bermakna bahwa siapa saja yang berdusta atas nama Rasulullah SAW dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempatnya di neraka.

Taushiyah Subuh di Masjid Baiturrahman Lhokseumawe itu ditutup dengan pesan agar umat Islam senantiasa berhati-hati dalam menerima, mempelajari, dan menyampaikan hadis, serta menjadikan Al-Qur’an dan hadis shahih sebagai pedoman dalam kehidupan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....