Menjauhi Tathayyur, Keyakinan yang Dilarang dalam Islam

  • 14 Agt 2026 19:43 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Pernah kah kamu mendengar istilah Tahayyur ? Ya, ini adalah salah satu bentuk keyakinan yang harus dihindari seorang Muslim. Karena arti dari tathayyur adalah menganggap sesuatu sebagai pertanda buruk dan pembawa kesialan. Keyakinan tersebut dapat muncul ketika seseorang menganggap tanggal tertentu, angka tertentu, suara burung, tempat, benda, atau kejadian tertentu sebagai tanda bahwa musibah akan terjadi. Dalam ajaran Islam, seorang Muslim diperintahkan untuk tidak menggantungkan nasib pada pertanda-pertanda semacam itu, karena segala sesuatu terjadi atas ketetapan dan kehendak Allah SWT.

Ustad Ichsan Zulfandi dalam khotbah Jum'at 14 Agustus 2026 di masjid Baiturrahman kota Lhokseumawe, dengan lugas menjelaskan perihal Tathayyur. Beliau juga menambahkan ayat Al-Qur’an telah menggambarkan sikap orang-orang yang menganggap sesuatu sebagai pertanda buruk. Dalam Surah Al-A’raf ayat 131, Allah SWT berfirman bahwa ketika suatu kebaikan datang kepada mereka, mereka mengatakan bahwa itu adalah karena mereka; namun ketika keburukan menimpa, mereka mengaitkannya dengan Nabi Musa dan orang-orang yang bersamanya. Allah kemudian menegaskan bahwa ketahuilah, nasib buruk mereka itu berada di sisi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Ayat ini menjadi peringatan agar manusia tidak menjadikan pertanda, tempat, waktu, atau angka sebagai sumber kesialan, karena semuanya berada dalam ketetapan Allah.

Dalam Surah An-Naml ayat 47, ketika kaum Nabi Saleh menganggap beliau dan pengikutnya sebagai penyebab kesialan, Nabi Saleh menjawab bahwa pertanda mereka berada di sisi Allah. Pesan tersebut menunjukkan bahwa seorang Muslim harus memiliki keyakinan yang benar terhadap takdir. Bukan berarti manusia mengabaikan sebab-akibat atau berhenti berhati-hati, tetapi tidak boleh meyakini bahwa sebuah tanggal, angka, tempat, atau benda tertentu mempunyai kekuatan gaib untuk mendatangkan kesialan. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa “tidak ada thiyarah (anggapan pertanda buruk)” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menariknya, dalam hadis sahih juga disebutkan golongan yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, di antaranya mereka yang tidak melakukan tathayyur, tidak meminta ruqyah secara khusus kepada orang lain, tidak meyakini pertanda buruk, dan bertawakal hanya kepada Allah (HR. Bukhari dan Muslim). Karena itu, menjauhi tathayyur bukan sekadar meninggalkan sebuah kebiasaan, tetapi merupakan bagian dari menjaga kemurnian tauhid dan tawakal. Seorang Muslim hendaknya meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat mendatangkan manfaat atau mudarat secara mandiri tanpa izin Allah SWT, sehingga hati tidak mudah dikuasai ketakutan terhadap angka, tanggal, tempat, maupun pertanda yang tidak memiliki dasar dalam syariat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....