Semen Langka dan Harga Melonjak, Haji Uma Surati Mendag dan Minta Usut Dugaan Mafia

  • 01 Agt 2026 19:05 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Aceh Utara – Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman sapaan Haji Uma, turun langsung meninjau sejumlah toko bangunan di Kota Lhokseumawe pada Jumat 31 Juli 2026.

Peninjauan ini merespons keluhan masyarakat di berbagai wilayah Aceh terkait kelangkaan semen dan lonjakan harga drastis yang telah berlangsung selama dua bulan terakhir.

Dalam sidak tersebut, Haji Uma berdialog dengan pemilik toko bangunan, distributor semen, hingga kontraktor proyek konstruksi untuk menghimpun data terkait penyebab krisis pasokan tersebut.

Hasil temuan di lapangan menunjukkan sejumlah toko bangunan kehabisan stok semen selama hampir dua bulan. Hal itu berdampak langsung pada lonjakan harga di tingkat eceran. Semen yang biasanya dijual Rp63.000 hingga Rp65.000 per sak, kini melambung tinggi hingga Rp100.000 bahkan mencapai Rp120.000 per sak di beberapa daerah.

"Kelangkaan dan mahalnya harga semen ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Dampaknya sangat luas, mulai dari masyarakat yang sedang membangun rumah hingga proyek-proyek infrastruktur. Negara harus hadir melindungi masyarakat," tegas Haji Uma.

Merespons krisis ini, Haji Uma resmi menyurati Menteri Perdagangan RI untuk segera mengambil langkah konkret. Ia mendesak pemerintah memperketat pengawasan distribusi dari rantai produsen hingga supplier, serta menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) semen agar harga pasar terkendali, selain Mendag, Haji Uma juga menyasar Kementerian ESDM untuk mengevaluasi kinerja produksi dan distribusi PT Solusi Bangun Andalas yang beroperasi di Aceh.

"Aceh punya pabrik semen sendiri, tapi masyarakatnya justru kesulitan dapat pasokan dan harus bayar sangat mahal. Pemerintah perlu mengevaluasi total, apakah kendalanya ada di sisi produksi, distribusi, atau faktor lain," terangnya.

Tak berhenti di situ, Senator asal Aceh ini juga meminta aparat Kepolisian RI dan Kejaksaan RI bertindak cepat mendalami dugaan penimbunan atau praktik spekulan.

"Jika ada indikasi permainan distribusi atau praktik mafia yang merugikan masyarakat dan mengganggu pembangunan di Aceh, usut tuntas. Pelakunya harus diproses hukum tanpa kompromi," pintanya

Salah satu Pemilik Toko Bangunan di kawasan Cunda, Lhokseumawe, Zahlul Azmi mengeluhkan ketiadaan pasokan yang membuatnya tak bisa melayani pembeli.

"Sudah dua bulan stok kosong. Kami berharap harga kembali normal di kisaran Rp60 ribu hingga Rp65 ribu per sak dan pasokan lancar lagi," ungkap Zahlul.

Sementara itu, distributor semen setempat, Iqbal, menjelaskan bahwa kelangkaan dipicu oleh lonjakan permintaan yang tak sebanding dengan alokasi pasokan dari pabrik.

"Harga di tingkat pabrik sebenarnya tidak naik. Namun, membengkaknya biaya logistik dan alur rantai distribusi yang tersendat dan memicu ketimpangan harga di pasaran."jelasnya.

Sedangkan dampak krisis semen ini turut dirasakan sektor konstruksi vital. Mulyadi, tim logistik lapangan proyek Tower Radar Kota Lhokseumawe, menuturkan kenaikan harga semen hingga Rp120 ribu per sak membuat anggaran proyek membengkak.

"Kami dilematis karena harus mengejar target progres. Tapi kenaikan harga yang hampir dua kali lipat ini membuat anggaran yang sudah dirancang jauh melenceng dari kondisi lapangan,"Demikian kata Mulyadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....