Zakat Berperan Membersihkan Harta serta Menenangkan Jiwa Manusia

  • 01 Agt 2026 11:34 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Program acara Mutiara Pagi hasil kerja sama RRI Lhokseumawe dengan Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah Kota Lhokseumawe edisi Sabtu, 1 Agustus 2026 mengangkat topik pentingnya menunaikan zakat bersama penceramah Ustadz H. Bukhari Kaoy, M.Pd.

Dalam tausiah tersebut, ditegaskan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban agama, melainkan sarana utama untuk membersihkan harta serta menenangkan jiwa setiap Muslim.

Landasan syariat perintah zakat ini merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah At-Taubah ayat 103. Ayat tersebut memerintahkan umat Islam untuk mengambil sebagian harta sebagai sedekah atau zakat yang berfungsi membersihkan dan menyucikan diri. Harta yang didapatkan dari hasil kerja keras seperti berdagang, bertani, maupun meniti karier memiliki hak orang lain yang wajib dikeluarkan.

Ustadz Bukhari menegaskan bahwa dalam setiap harta yang telah mencapai nisab dan haul, terdapat hak kaum fakir dan miskin. "Perlu kita sadari bahwa pada harta itu ada ketentuan Allah SWT. Di sana ada hak-hak orang lain yang harus kita berikan, meskipun mereka tidak ikut menanamkan modal atau bekerja bersama kita," ujar Ustadz Bukhari saat menyampaikan materi tausiah.

Ia juga mengingatkan konsekuensi serius bagi seseorang yang enggan menunaikan kewajiban zakat hingga akhir hayatnya. Menurutnya, harta peninggalan orang yang meninggal dunia tidak boleh langsung dibagikan kepada ahli waris sebelum seluruh kewajiban zakatnya ditunaikan.

"Selama kita belum menunaikan hak-hak kepada orang yang berhak menerima zakat, maka harta kita masih ternoda dan belum bersih di sisi Allah SWT," tegasnya. Selain menyucikan harta, ibadah zakat juga memberikan dampak psikologis dan spiritual yang sangat positif bagi orang yang menunaikannya.

Seseorang yang telah menyerahkan hak kaum dhuafa akan merasakan ketenangan jiwa karena terbebas dari beban keterikatan harta dengan orang lain. Apalagi, doa dari Rasulullah SAW serta doa para penerima zakat dipastikan makbul dan mendatangkan keberkahan hidup.

Dalam siaran Mutiara Pagi tersebut, Ustadz Bukhari mencontohkan penyesalan mendalam hamba Allah di akhirat kelak yang memohon untuk dikembalikan ke dunia hanya demi bisa bersedekah dan berzakat.

Hal ini digambarkan melalui kisah sahabat Nabi, Syakban, yang saat sakaratul maut melihat besarnya pahala sedekah yang pernah diperbuatnya semasa hidup, sehingga ia berkeinginan untuk memberikan lebih banyak lagi.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak menunda kewajiban membayar zakat selagi masih diberikan kesempatan hidup dan kelapangan rezeki oleh Allah SWT. Menunaikan zakat bukan hanya bentuk ketaatan terhadap syariat Islam, melainkan juga jalan utama menuju keberkahan harta serta kedamaian hidup di dunia dan akhirat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....