Penelitian: Ini Alasan Otak Sulit Berhenti Scroll Media Sosial

  • 28 Jul 2026 18:57 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggulir (scroll) media sosial ternyata memiliki penjelasan ilmiah. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa desain platform media sosial memanfaatkan sistem penghargaan (reward system) di otak sehingga mendorong pengguna untuk terus membuka aplikasi dan melakukan scroll tanpa disadari.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Human Behaviour menjelaskan bahwa media sosial dirancang dengan mekanisme hadiah yang tidak dapat diprediksi (variable reward). Setiap kali pengguna menggulir layar, otak akan mengantisipasi kemungkinan menemukan konten yang menarik, lucu, atau mengejutkan. Mekanisme tersebut merangsang pelepasan dopamin, yaitu neurotransmiter yang berperan dalam rasa senang, motivasi, dan pembentukan kebiasaan.

Menurut para peneliti, sistem penghargaan yang tidak menentu justru lebih efektif dalam mempertahankan perilaku dibandingkan hadiah yang selalu dapat diprediksi. Prinsip yang sama juga ditemukan pada berbagai bentuk perilaku adiktif, termasuk permainan mesin slot (slot machine), di mana seseorang terus mencoba karena tidak mengetahui kapan akan memperoleh "hadiah". Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa penggunaan media sosial tidak dapat disamakan secara langsung dengan kecanduan judi karena melibatkan mekanisme psikologis yang lebih kompleks.

Penelitian lain yang diterbitkan dalam Computers in Human Behavior menemukan bahwa fitur seperti infinite scroll, video yang diputar otomatis (autoplay), serta notifikasi dirancang untuk mengurangi jeda ketika pengguna berinteraksi dengan aplikasi. Akibatnya, pengguna cenderung menghabiskan waktu lebih lama di media sosial dibandingkan yang sebelumnya direncanakan.

Sementara itu, laporan DataReportal 2025 menunjukkan masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata lebih dari 7 jam per hari menggunakan internet. Sebagian besar waktu tersebut digunakan untuk mengakses media sosial, menonton video, berkomunikasi, dan mencari hiburan melalui perangkat seluler.

Psikolog dari American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat dikaitkan dengan meningkatnya gangguan konsentrasi, kualitas tidur yang menurun, hingga munculnya kecemasan pada sebagian pengguna. Namun, dampaknya sangat dipengaruhi oleh durasi penggunaan, jenis aktivitas yang dilakukan, serta kondisi psikologis masing-masing individu.

Para peneliti menilai media sosial pada dasarnya bukanlah teknologi yang berbahaya. Namun, pemahaman mengenai cara kerja sistem penghargaan di otak dinilai penting agar masyarakat dapat menggunakan media sosial secara lebih sadar dan mampu mengendalikan durasi penggunaan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....