Flexing di Media Sosial: Gaya Hidup Pamer yang Bisa Berdampak pada Kesehatan Mental

  • 26 Jul 2026 20:58 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID Lhokseumawe - Fenomena flexing atau kebiasaan memamerkan kekayaan, gaya hidup mewah, maupun pencapaian pribadi di media sosial semakin sering terlihat, terutama di kalangan generasi muda. Meski sekilas tampak sebagai bentuk ekspresi diri, perilaku ini dapat memicu tekanan sosial, rasa minder, hingga dorongan untuk membandingkan diri dengan orang lain. Tidak sedikit orang yang akhirnya merasa harus mengikuti tren demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan.

Psikolog klinis menjelaskan bahwa perilaku flexing tidak selalu muncul karena seseorang benar-benar ingin berbagi kebahagiaan. Dalam banyak kasus, flexing dapat dipengaruhi oleh kebutuhan akan validasi, keinginan memperoleh pengakuan, atau membangun citra tertentu di hadapan orang lain. Rasa tidak percaya diri, rendahnya harga diri, hingga tekanan untuk terlihat sukses di media sosial juga dapat menjadi pemicu seseorang melakukan flexing.

Media sosial sering kali mendorong seseorang untuk mencari apresiasi melalui jumlah suka, komentar, maupun perhatian dari orang lain. Ketika kebahagiaan bergantung pada pengakuan tersebut, seseorang berisiko mengalami kecemasan, stres, bahkan merasa tidak berharga saat respons yang diterima tidak sesuai harapan. Karena itu, penting membangun rasa percaya diri yang berasal dari penerimaan diri, bukan dari penilaian orang lain.

Di sisi lain, flexing juga dapat berdampak pada orang yang melihatnya. Paparan konten yang menampilkan kehidupan serba sempurna dapat memicu perasaan iri, FOMO (fear of missing out), hingga menurunkan rasa syukur terhadap kehidupan sendiri. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, kesehatan mental dapat terganggu karena individu terus membandingkan pencapaiannya dengan apa yang dilihat di dunia maya, padahal belum tentu mencerminkan kondisi yang sebenarnya.

Para ahli mengingatkan agar masyarakat lebih bijak menggunakan media sosial dan tidak menjadikannya sebagai tolok ukur kesuksesan. Mengurangi kebiasaan membandingkan diri, memperkuat rasa syukur, serta membangun hubungan sosial yang sehat menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental. Dengan demikian, media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana berbagi inspirasi dan informasi, bukan sekadar ajang pamer yang berpotensi menimbulkan tekanan psikologis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....