Rangkang Pustaka Bangkitkan Literasi dari Desa

  • 22 Jul 2026 23:18 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID,Lhokseumawe - RRI Lhokseumawe menggelar program siaran interaktif Obrolan Komunitas yang mengangkat tema "Literasi Sebagai Kunci Jendela Dunia" melalui kanal pro satu 89.3 Mhz.

Dialog berdurasi satu jam tersebut menghadirkan perwakilan Pengurus sebuah komunitas bernama Taman Baca Masyarakat (TBM) Rumah Baca Rangkang Pustaka yang berasal dari sebuah desa di Kecamatan Nisam, Aceh Utara. Dialog ini bertujuan mengajak masyarakat luas untuk memperluas wawasan melalui budaya membaca.

Hadir sebagai narasumber Ulfia Rahmah, selaku Pembina, Miratul Husna sebagai Ketua, dan Cut Asyifa Ramadhani (Tim Media Social & Copywriting) di TBM Rumah Baca Rangkang Pustaka.

Dalam pemaparannya, Ulfia menceritakan bahwa Rangkang Pustaka telah hadir sejak tahun 2020 saat pandemi Covid 19. Rangkang hadir untuk menjawab tantangan kesulitan belajar semasa pandemi, dimana anak-anak di desa mengalami kesulitan belajar secara daring (online).

Sejak saat itu, Rangkang, yang awalnya hanya merupakan tempat anak-anak berkumpul untuk meminjam dan membaca buku, kini semakin berkembang menjadi pusat pembelajaran non formal dengan metode dan kurikulum tersendiri.

Rangkang mengajarkan berbagai pengetahuan baik pengetahuan umum, agama, tahfidz, kepenulisan, hingga teknologi dengan menghadirkan tutor yang kompeten di bidangnya masing-masing.

"Sejauh ini semua tutor sifatnya volunteering (kesukarelawanan), dan Rangkang bisa berdiri karena bantuan donasi dari berbagai pihak termasuk dari para dermawan dan pemerintah," ungkap Ulfia.Rabu 22 Juli 2026.

Hingga kini Rangkang Pustaka telah memiliki puluhan peserta didik yang terdiri dari jenjang SD dan SMP. Selain itu, Miratul Husna, juga menceritakan bahwa Rangkang Pustaka hadir untuk menjadi pembuka jalan bagi masa depan anak-anak desa agar terliterasi dengan baik dan tidak tertinggal oleh perkembangan dunia.

"Sejak ada Rangkang Pustaka anak-anak di desa kami semakin mudah dalam belajar, semakin memiliki kemampuan di berbagai bidang, dan semakin sering mengikuti kompetisi," ujar Mira.

Syifa, salah seorang pengurus yang juga tim sosial media dari Rangkang Pustaka menilai masyarakat di era sosmed saat ini sangat kurang dalam hal membaca, daripada membaca mereka lebih suka menonton hp, dan terpapar konten - konten singkat yang akhirnya melemahkan kemampuan berpikir (brain rot).

Walau menurut Syifa, makna literasi saat ini tidak hanya sebatas kemampuan membaca buku secara fisik, melainkan juga mencakup kecakapan dalam memahami, menganalisis, serta mengolah informasi. Pemahaman literasi yang mendalam dinilai sangat krusial guna membentengi masyarakat dari maraknya penyebaran berita bohong atau hoaks.

"Literasi adalah kunci utama yang membuka jendela dunia dan memperluas cakrawala berpikir kita, terutama bagi generasi muda dalam menghadapi persaingan global," kata Syifa.

Para pengurus Rangkang Pustaka berharap kedepan bisa lebih memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, komunitas, dan akademisi dalam menggalakkan gerakan literasi.

Dukungan fasilitas seperti perpustakaan daerah yang representatif serta akses terhadap literatur digital dipandang vital untuk menunjang kebutuhan pengetahuan masyarakat.

Menurut pengalaman Syifa, yang terjadi saat ini bukan hanya soal malasnya budaya membaca atau belajar, melainkan juga akses terhadap bahan bacaan dan sumber pembelajaran yang tidak memadai.

"Anak-anak yang kami temui rata-rata suka membaca, namun bukunya yang kurang tersedia. Seandainya setiap kecamatan dibangun TBM di salah satu Desanya, itu akan sangat membantu, anak-anak akan terliterasi dnegan baik, tumbuh cerdas dan jadi generasi unggul," ujar Syifa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....