Media Sosial: Validasi Diri Berujung Tekanan Emosional
- 06 Jul 2026 21:17 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID Lhokseumawe: Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda. Berbagai platform digital kini bukan hanya dimanfaatkan sebagai sarana berbagi informasi dan hiburan, tetapi juga menjadi tempat untuk mencari pengakuan dari orang lain. Jumlah tanda suka, komentar, hingga jumlah pengikut sering kali dianggap sebagai tolok ukur penerimaan sosial, sehingga tidak sedikit pengguna yang merasa harus selalu tampil sempurna di dunia maya.
Sejumlah penelitian dalam jurnal psikologi menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat meningkatkan kebutuhan seseorang terhadap validasi sosial. Respons positif berupa "like" dan komentar mampu memicu rasa senang karena berkaitan dengan sistem penghargaan di otak. Namun, ketika respons yang diterima tidak sesuai harapan, sebagian orang dapat mengalami rasa kecewa, cemas, bahkan mempertanyakan nilai dirinya sendiri. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa penggunaan media sosial perlu diimbangi dengan kesadaran akan kesehatan mental.
Psikolog juga menilai bahwa validasi dari orang lain merupakan kebutuhan yang wajar sebagai makhluk sosial. Namun, jika kebahagiaan hanya bergantung pada penilaian orang lain di media sosial, hal tersebut dapat memengaruhi kepercayaan diri dan kesejahteraan emosional. Karena itu, penting bagi setiap pengguna untuk membangun rasa percaya diri dari dalam diri sendiri, bukan semata-mata dari interaksi di dunia digital.
Seorang mahasiswi di Lhokseumawe, Rania Putri, mengaku pernah mengalami fase ketika dirinya merasa cemas setiap kali unggahan di media sosial tidak mendapatkan banyak respons. Ia bahkan beberapa kali menghapus foto atau video yang dianggap sepi interaksi karena merasa tidak cukup menarik. Setelah menyadari kebiasaan tersebut berdampak pada kondisi emosionalnya, Rania mulai membatasi waktu bermain media sosial dan lebih fokus pada aktivitas di dunia nyata. Menurutnya, perubahan itu membuatnya lebih tenang dan tidak lagi mudah membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa media sosial seharusnya menjadi ruang untuk berbagi, belajar, dan membangun relasi, bukan tempat mengukur nilai diri. Dengan menggunakan media sosial secara bijak, masyarakat dapat memanfaatkan teknologi sebagai sarana yang positif tanpa harus terjebak dalam kebutuhan akan validasi yang berlebihan. Keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata menjadi kunci untuk menjaga kesehatan mental di era modern.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....