Melalui Komunitas Genwaslu, Anak Muda Lhokseumawe Kawal Demokrasi di Era Digital
- 01 Jul 2026 21:46 WIB
- Lhokseumawe
RRI CO ID,Lhokseumawe - Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) atau Panwaslih Kota Lhokseumawe berkomitmen untuk terus meningkatkan pengawasan partisipatif masyarakat meskipun tahapan pemilihan umum belum dimulai.
Langkah ini diambil guna mempersiapkan masyarakat, terutama generasi muda, agar memiliki bekal yang cukup dalam mengawal kualitas demokrasi di tanah air.
Implementasi nyata dari komitmen tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Pendidikan Pencegahan Pengawasan Partisipatif (P2P). Kegiatan yang rutin diselenggarakan ini berhasil melahirkan komunitas relawan anak muda yang dinamai Genwaslu (Generasi Pengawas Pemilu).
Komunitas yang beranggotakan pelajar, mahasiswa, hingga kalangan profesional tersebut menjadi wadah strategis bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam meminimalkan potensi kecurangan pemilu di tingkat lokal.
Komisioner Bawaslu Kota Lhokseumawe sekaligus Kordiv HP2H, Ayi Jufridar saat mengisi program Obrolan Komunitas Pro 1 RRI Lhokseumawe edisi Selasa, 30 Juni 2026 menegaskan bahwa persiapan menghadapi dinamika pemilu tidak boleh dilakukan secara mendadak.
Menurutnya, pemahaman mengenai pengawasan harus ditanamkan jauh-jauh hari sebelum tahapan elektoral dimulai agar memberikan dampak yang berkelanjutan. Transformasi pengawasan ini dinilai sangat krusial agar masyarakat tidak sekadar menjadi pemilih, melainkan juga ikut menjadi benteng pencegah pelanggaran.
"Jangan sampai begitu tahapan dimulai baru pendidikan dimulai, kalau pendidikan itu kan jauh-jauh hari harus dipersiapkan, kita harus mempersiapkan lebih awal," ujar Ayi Jufridar.
Ia menilai tantangan dalam mengawal demokrasi kini kian kompleks seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi di era digital. Platform media sosial kini tidak hanya dimanfaatkan sebagai sarana kampanye yang murah dan efisien, tetapi juga berpotensi menjadi celah penyebaran berita bohong (hoax), ujaran kebencian maupun politik uang.
Bahkan kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini kerap disalahgunakan untuk memanipulasi informasi publik demi kepentingan politik kelompok tertentu.
Ketua Genwaslu Lhokseumawe yang juga berstatus sebagai pelajar, Aulia Saputra, turut membagikan pandangannya mengenai dampak buruk manipulasi digital terhadap masyarakat luas.
Ia mengimbau rekan-rekan sebayanya untuk meningkatkan literasi digital dan kesadaran politik sedini mungkin agar tidak mudah terkecoh oleh konten-konten manipulatif. Keaktifan anak muda dinilai menjadi penentu bagi lahirnya kebijakan-kebijakan pemerintah yang berpihak pada rakyat di masa depan.
Keterlibatan aktif generasi muda diharapkan mampu menularkan virus positif kepedulian politik sehingga iklim demokrasi di era digital tetap berjalan sehat, transparan, dan akuntabel.
Melalui sinergi kokoh antara Bawaslu, komunitas Genwaslu, dan seluruh elemen masyarakat, tantangan pengawasan siber diharapkan dapat teratasi secara maksimal. Kolaborasi ini didesain sebagai gerakan jangka panjang demi mempersiapkan tongkat estafet kepemimpinan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....