Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Tewaskan Ribuan Orang, Ahli Ingatkan Dampaknya

  • 30 Jun 2026 00:48 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Prancis – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa sejak akhir Juni dilaporkan telah menyebabkan sekitar 1.000 kematian berlebih (excess deaths) di Prancis. Mayoritas korban merupakan kelompok lanjut usia yang rentan terhadap suhu tinggi.

Berdasarkan laporan Public Health France, angka tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah seiring proses pelaporan dari rumah sakit dan fasilitas kesehatan di berbagai wilayah.

Selain menimbulkan korban jiwa, suhu yang di sejumlah wilayah dilaporkan melampaui 40 derajat Celsius juga berdampak terhadap berbagai sektor. Otoritas Prancis menutup ribuan sekolah sebagai langkah antisipasi guna melindungi siswa dan tenaga pendidik dari paparan panas ekstrem.

Fenomena serupa juga terjadi di sejumlah negara Eropa lainnya. Di Jerman, suhu tinggi menyebabkan rel kereta mengalami deformasi sehingga mengganggu layanan transportasi. Sementara itu, Italia dan Spanyol menghadapi peningkatan risiko kebakaran hutan, sedangkan menurunnya debit Sungai Po di Italia mengganggu sistem irigasi, pasokan air bersih, hingga operasional pembangkit listrik.

Badan meteorologi di sejumlah negara Eropa memperingatkan bahwa gelombang panas diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, menjaga asupan cairan tubuh, serta memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit kronis.

Sejumlah ilmuwan menilai perubahan iklim menjadi faktor yang memperparah intensitas gelombang panas. World Weather Attribution (WWA) dalam analisis cepatnya menyebut gelombang panas yang terjadi di Eropa saat ini hampir tidak mungkin terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim akibat aktivitas manusia.

Temuan tersebut sejalan dengan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang menyatakan pemanasan global telah meningkatkan frekuensi, durasi, dan intensitas cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia, termasuk gelombang panas yang kini semakin sering terjadi.

Sementara itu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut tahun-tahun terakhir menjadi periode terpanas dalam sejarah pencatatan modern. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kesehatan masyarakat, mengganggu ketahanan pangan, serta memperbesar potensi terjadinya kebakaran hutan dan kekeringan di berbagai kawasan.

Peristiwa gelombang panas di Eropa menjadi pengingat bahwa dampak perubahan iklim tidak lagi sebatas ancaman di masa depan, tetapi telah dirasakan secara nyata melalui meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi, gangguan kesehatan, hingga korban jiwa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....