SMNI Hengkang dari Aliansi Cot Girek, Sebut Ada ‘Predator’ Demokrasi Internal

  • 29 Jun 2026 15:07 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Aceh Utara – Hubungan soliditas di dalam Aliansi Rakyat Cot Girek Melawan resmi pecah. Serikat Mahasiswa Nasional Indonesia (SMNI) secara mengejutkan menyatakan menarik diri dan keluar secara total dari koalisi perjuangan tersebut.

Langkah ini diambil setelah SMNI mencium adanya aroma penyimpangan arah gerakan yang dinilai telah mengkhianati mandat dan kesepakatan awal bersama masyarakat di tiga kecamatan, yaitu Cot Girek, Pirak Timu, dan Paya Bakong.

SMNI menilai, gerakan aliansi yang saat ini mengklaim bergerak bersama Serikat Tani di 19 desa, telah kehilangan kompas moral dan terjebak dalam praktik elite yang jauh dari kepentingan riil massa rakyat.

Dalam keterangan resminya Ketua Umum SMNI Aceh, Beni Murdani membeberkan ada beberapa alasan fundamental mengapa aliansi ini tidak lagi layak untuk dipertahankan, yaitu tentang pengkhianatan Komitmen Awal, Gerakan aliansi dinilai telah melenceng jauh dari cetak biru (blueprint) perjuangan kolektif yang awalnya disepakati bersama rakyat di Kantor Bupati Aceh Utara.

"Monopoli Keputusan dan Matinya Demokrasi, yaitu Proses pengambilan kebijakan di internal aliansi dituding dilakukan secara gelap dan tertutup. Rapat-rapat yang semestinya menjadi ruang dialektika yang demokratis kini macet total, membuktikan hilangnya prinsip partisipatif."jelas Beni Murdani, Senin,28 Juni 2026.

Menurutnya sejak deklarasi Aliansi Rakyat Aceh Utara Melawan, SMNI mengaku sengaja "dikotakkan" dan tidak dilibatkan secara aktif dalam forum-forum strategis. Elemen mahasiswa dinilai hanya dijadikan pelengkap kosmetik gerakan tanpa peran yang jelas.

"Kami tidak bisa menoleransi gerakan yang membelakangi prinsip demokrasi, keterbukaan, dan perjuangan berbasis massa rakyat. Ketika aliansi tidak lagi berjalan di atas rel keterbukaan, maka bertahan di dalamnya adalah bentuk kompromi terhadap matinya nilai-nilai demokratis," ungkapnya.

Ultimatum Hukum dan Sikap Politik SMNI

Lanjutnya, Sebagai bentuk ketegasan organisasi, SMNI mengeluarkan dua poin pernyataan sikap dan disclaimer hukum yang berlaku sejak rilis ini diterbitkan, yang pertama, SMNI menyatakan tidak lagi memiliki keterikatan politik maupun gerakan apa pun dengan Aliansi Rakyat Cot Girek Melawan.

Kedua SMNI menegaskan akan mengambil langkah hukum pidana/perdata yang tegas jika di kemudian hari ada aktor atau kelompok dalam aliansi yang nekat mencatut, membawa, atau mengatasnamakan SMNI dalam aktivitas mereka. Tindakan tersebut dinyatakan sebagai tindakan ilegal dan di luar tanggung jawab organisasi.

"Meski memilih angkat kaki dari aliansi, SMNI menegaskan tidak akan pernah mundur dari garis depan perjuangan. Mereka berjanji akan tetap mengawal hak-hak rakyat Aceh Utara melalui jalur perjuangan yang murni, independen, dan setia pada kepentingan rakyat tanpa harus mengekor pada gerbong aliansi yang dianggap telah kehilangan arah."tegasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....