Fenomena El Nino di Prediksi Melanda Juni hingga Oktober
- 29 Mei 2026 18:42 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Sejumlah wilayah di Aceh diprakirakan akan mengalami cuaca panas menyengat pada Jumat sore hingga malam hari, 29 Mei 2026.
Prakirawan Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Malikussaleh Aceh Utara, Kharendra Muiz, menyatakan bahwa suhu udara maksimal di beberapa wilayah dapat mencapai 32 derajat Celsius. Wilayah yang terdampak cuaca panas ini meliputi Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Utara, Kota Langsa, Kabupaten Aceh Timur, Bireuen, hingga Bener Meriah.
"Seluruh wilayah tersebut didominasi oleh cuaca cerah berawan, meski ada beberapa daerah yang berpotensi mengalami berawan tebal. Kelembaban udara berkisar antara 50 hingga 65 persen, dan tidak ada potensi hujan sama sekali hingga malam hari," ujar Muiz saat diwawancarai.
Di samping kondisi cuaca lokal, Muiz juga menyinggung fenomena iklim global, yakni El Nino, yang diinformasikan akan kembali aktif pada periode Juni hingga Oktober mendatang, dengan puncaknya diprediksi terjadi pada Juli dan Agustus.
Menurutnya, dampak El Nino kali ini akan membuat cuaca di wilayah Indonesia Tengah dan Timur menjadi sangat kering, kondisi yang berbanding terbalik dengan wilayah Amerika yang justru cenderung basah. Perubahan cuaca ekstrem dan suhu yang menyengat ini dinilai sangat mengganggu kenyamanan serta produktivitas masyarakat. "Kondisi ini sangat mengganggu aktivitas masyarakat, terutama bagi mereka yang banyak menghabiskan waktu dan beraktivitas di luar ruangan," tambahnya.
Selain suhu udara yang terik di daratan, BMKG juga memberikan peringatan dini mengenai kondisi gelombang laut di perairan Aceh. Berdasarkan pantauan, tinggi gelombang di wilayah pesisir terpantau relatif aman, yakni berkisar antara 0,1 hingga 0,6 meter.
Namun, situasi di kawasan lepas pantai terpantau jauh lebih ekstrem dan berisiko tinggi bagi aktivitas pelayaran. "Untuk wilayah 20 kilometer di lepas pantai, tinggi gelombang bisa mencapai 0,6 hingga 1,5 meter. Kondisi ini termasuk dalam kategori yang cukup berbahaya bagi para nelayan yang menggunakan perahu berukuran kecil," jelas Muiz.
Risiko di laut semakin meningkat seiring dengan tingginya kecepatan angin yang diperkirakan mampu mencapai 30 kilometer per jam. Muiz menekankan bahwa karakteristik cuaca di laut saat ini menunjukkan eskalasi bahaya yang linier dengan jarak dari daratan.
"Hal ini cukup membahayakan para nelayan. Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa semakin jauh bergerak ke lepas pantai, maka kecepatan angin dan tinggi gelombang juga akan semakin meningkat secara signifikan," tuturnya. Karakteristik ini memerlukan kewaspadaan ekstra dari para pelaut lokal agar terhindar dari kecelakaan laut.
Merespons potensi bahaya di darat dan laut tersebut, BMKG mengeluarkan sejumlah imbauan tegas kepada seluruh lapisan masyarakat demi menjaga keselamatan bersama. Untuk mengantisipasi kebakaran lahan akibat cuaca kering, warga diminta tidak membakar sampah lalu meninggalkannya begitu saja, serta dilarang keras membuang puntung rokok sembarangan.
Sementara untuk sektor kelautan, para nelayan diimbau untuk tidak melaut terlalu jauh dari bibir pantai. "Kami mengimbau kepada para nelayan, jika memang tangkapan di tepi pantai sudah dirasa cukup, sebaiknya jangan melanjutkan perjalanan ke tengah laut ketika tinggi gelombang dan kecepatan angin dirasa sudah mulai membahayakan keselamatan," pungkas Muiz menutup wawancara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....