Tabrakan KRL dan Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur, Mengapa Bisa Terjadi?
- 30 Apr 2026 11:21 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Jakarta - Kecelakaan maut antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin malam (27/4), menimbulkan duka mendalam sekaligus memunculkan pertanyaan besar mengenai penyebab insiden tersebut. Peristiwa yang menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai puluhan penumpang itu diduga dipicu oleh rangkaian kelalaian serta persoalan keselamatan di perlintasan sebidang.
Berdasarkan informasi awal, insiden bermula ketika sebuah taksi listrik berhenti di perlintasan sebidang kawasan Bulak Kapal, Bekasi Timur. Kendaraan tersebut diduga mengalami gangguan teknis hingga terjebak di jalur rel saat KRL Commuter Line lintas Cikarang–Jakarta melintas. Tabrakan pun tak terhindarkan.
Akibat benturan itu, rangkaian KRL mengalami gangguan operasional dan terhenti di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur. Dalam kondisi tersebut, KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasarturi yang melaju dari arah belakang tidak berhasil menghindari tabrakan dan menghantam bagian belakang KRL.
Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai perlintasan sebidang masih menjadi titik rawan kecelakaan karena minimnya pengamanan serta tingginya aktivitas kendaraan.
“Perlintasan sebidang adalah salah satu sumber kecelakaan tertinggi dalam sistem perkeretaapian kita. Seharusnya kawasan padat seperti Bekasi sudah memiliki flyover atau underpass permanen,” ujarnya.
Menurut jurnal keselamatan transportasi yang diterbitkan oleh Kementerian Perhubungan, sekitar 80 persen kecelakaan kereta api di Indonesia berkaitan dengan perlintasan sebidang yang tidak memenuhi standar keselamatan, baik dari sisi palang pintu, pengawasan petugas, maupun disiplin pengguna jalan.
Selain faktor infrastruktur, investigasi juga mengarah pada kemungkinan keterlambatan sistem sinyal dan komunikasi antarpetugas saat KRL berhenti darurat di jalur aktif. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) saat ini masih melakukan penyelidikan menyeluruh untuk memastikan apakah terdapat unsur human error, gangguan teknis, atau kelemahan prosedur operasional.
Presiden turut meminta evaluasi total terhadap sistem keselamatan transportasi kereta api, khususnya pada jalur padat Jabodetabek. Pemerintah juga mendorong percepatan pembangunan flyover di titik-titik rawan kecelakaan.
Sementara itu, PT KAI dan KAI Commuter menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas insiden tersebut dan memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis serta pendampingan.
Tragedi Bekasi Timur menjadi pengingat bahwa keselamatan transportasi publik tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada ketegasan kebijakan, kesiapan infrastruktur, dan disiplin semua pihak di lapangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....