Parental Burnout: Saat Orang Tua Lelah Menjalani Perannya
- 26 Apr 2026 12:55 WIB
- Lhokseumawe
RRI CO.ID, Lhokseumawe-Menjadi orang tua sering kali dianggap sebagai peran yang membahagiakan. Banyak orang membayangkan momen hangat bersama anak, tawa kecil di rumah, hingga kebanggaan melihat tumbuh kembang mereka.
Namun, di balik semua itu, ada sisi lain yang jarang dibicarakan secara terbuka, yaitu kelelahan yang mendalam dalam menjalani peran sebagai orang tua. Kondisi ini dikenal dengan istilah parental burnout.
Mengutip dari American Psychological Association (APA), Parental burnout adalah kondisi kelelahan yang dirasakan oleh orang tua saat mengasuh anak.
Terdapat empat tahapan kondisi kelelahan yang dirasakan, yaitu : Lelah sebagai orangtua, tertekan dengan perbedaan kondisi antara orangtua saat ini dan sebelumnya, benci dengan keadaan, hingga menjaga jarak secara emosional dengan anak.
Kondisi kelelahan ini jika tidak ditangani dengan tepat dapat memicu depresi sampai situasi ibu dan ayah tidak semangat menjalani hari-harinya.
Parental burnout bukan sekadar rasa lelah biasa. Ini adalah kondisi ketika orang tua merasa kehabisan energi, baik secara fisik, mental, maupun emosional, akibat tekanan yang terus-menerus dalam mengasuh anak.
Rasa lelah ini bisa membuat orang tua merasa tidak lagi menikmati perannya, bahkan dalam beberapa kasus, muncul perasaan bersalah karena merasa tidak mampu menjadi “orang tua yang baik”.
Dalam kehidupan sehari-hari, tanda-tanda parental burnout sering kali muncul tanpa disadari. Orang tua bisa merasa sangat lelah meskipun tidak melakukan aktivitas berat dan begitu mudah tersulut emosi.
Hal-hal kecil yang sebelumnya bisa ditangani dengan sabar, kini terasa lebih sulit dihadapi. Perasaan jenuh, frustrasi, hingga kehilangan motivasi dalam mengasuh anak pun bisa terjadi.
Ada banyak faktor yang bisa memicu parental burnout. Salah satunya adalah tuntutan untuk menjadi orang tua yang sempurna. Di era media sosial, standar ini sering kali terasa semakin tinggi. Orang tua seolah dituntut untuk selalu sabar, kreatif, dan hadir sepenuhnya untuk anak, tanpa menunjukkan sisi lelah.
Selain itu, kurangnya dukungan bisa memperparah kondisi ini. Ketika semua tanggung jawab harus dipikul sendiri, beban yang dirasakan tentu menjadi lebih berat.
Tekanan ekonomi dan pekerjaan juga turut berperan. Banyak orang tua harus membagi fokus antara pekerjaan dan keluarga, yang tidak jarang membuat waktu istirahat menjadi berkurang. Rutinitas yang padat dan minimnya waktu untuk diri sendiri membuat energi semakin terkuras.
Dampak parental burnout tidak hanya dirasakan oleh orang tua, tetapi juga oleh anak. Ketika orang tua kelelahan, respons terhadap anak bisa menjadi kurang optimal. Emosi lebih mudah meledak, komunikasi menjadi tidak hangat, dan kedekatan emosional bisa berkurang. Dalam jangka panjang, hal ini dapat merenggangkan kualitas hubungan keluarga.
Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa parental burnout bukanlah tanda kegagalan. Justru, ini adalah sinyal bahwa orang tua membutuhkan istirahat dan dukungan.
Mengurangi tuntutan terhadap diri sendiri bisa menjadi langkah awal yang penting. Tidak ada orang tua yang sempurna, dan menjadi “cukup baik” sudah lebih dari cukup bagi anak.
Memberi ruang untuk diri sendiri (Me Time) juga tidak kalah penting. Waktu istirahat, meskipun singkat, dapat membantu memulihkan energi. Selain itu, tidak ada salahnya untuk meminta bantuan, baik kepada pasangan, keluarga, maupun teman. Berbagi beban bukan berarti lemah, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan keluarga.
Jika kelelahan terasa semakin berat dan sulit diatasi, mencari bantuan profesional seperti psikolog bisa menjadi pilihan yang bijak. Dukungan yang tepat dapat membantu orang tua memahami kondisi sekaligus menemukan cara untuk mengatasinya.
Pada akhirnya, menjadi orang tua adalah perjalanan panjang yang penuh dinamika. Ada masa bahagia, tetapi juga ada masa lelah. Mengakui kelelahan bukanlah hal yang memalukan. Justru dari situlah orang tua bisa belajar untuk lebih mengenal diri sendiri dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan anak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....