Ustadz Adnan Yahya Larang Sombong setelah Ibadah

  • 07 Apr 2026 12:48 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI. CO. ID, Lhokseumawe - Dalam momentum penuh keberkahan Halal Bi Halal yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Lhokseumawe, Selasa, 7 April 2026, Ustadz Adnan Yahya memberikan pesan mendalam mengenai hakikat spiritualitas pasca Ramadhan. Beliau menekankan agar setiap Muslim menjaga hati dari penyakit kesombongan setelah tuntas melaksanakan rangkaian ibadah sebulan penuh.

Dalam tausiyahnya yang digelar di ruangan Multi Purpose RRI, Adnan Yahya mengutip mutiara hikmah dari ulama besar Ibnu Atha'illah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam: "Frah biha liannaha barazat minallah ilayka, la liannaha shadrata minka ilayhi" yang artinya "Bergembiralah dengan ketaatan itu karena ia adalah karunia dari Allah untukmu, bukan karena ketaatan itu muncul dari dirimu untuk-Nya," ujar Adnan mengartikan kutipan tersebut.

Menurutnya, kegembiraan Idul Fitri seharusnya lahir dari rasa syukur karena telah dipilih dan dimampukan oleh Allah untuk beribadah, bukan perasaan bangga atas amal pribadi. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan mengkhatamkan Al-Qur'an atau mendirikan shalat malam bukanlah murni kehebatan manusia, melainkan "kiriman" taufik dari Sang Pencipta.

Kaitan dengan Jawaban Azan

Lebih lanjut, Adnan menjelaskan bahwa pengakuan akan ketidakberdayaan manusia sebenarnya selalu diikrarkan setiap hari melalui jawaban azan. Ketika muazin menyerukan 'Hayya 'alash shalah', umat Islam diajarkan menjawab dengan 'Laa haula wala quwwata illa billah'. "Ini adalah proklamasi bahwa kita tidak akan mampu melangkah satu jengkal pun menuju sajadah tanpa suntikan kekuatan dari Allah. Maka, sangat tidak pantas jika seseorang merasa sombong atau merasa telah berjasa kepada Tuhan setelah beribadah," tegasnya.

Bahaya Penyakit 'Ujub'

Adnan memperingatkan bahwa kesombongan atau ujub pasca-ibadah justru lebih berbahaya daripada maksiat itu sendiri. Mengutip kembali pemikiran Ibnu Atha'illah, beliau menyebutkan bahwa kemaksiatan yang melahirkan rasa hina dan butuh kepada Allah, jauh lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan rasa bangga dan kesombongan.

"Seringkali api kesombongan membakar pahala amal kita. Jika selesai Ramadhan kita justru merasa lebih suci dari orang lain, itu tandanya kita gagal memahami hakikat ibadah sebagai pinjaman kekuatan dari Allah," tambah Adnan.

Menutup tausiyahnya, ia mengajak seluruh keluarga besar RRI untuk menjadikan Idul Fitri sebagai momentum untuk merendah. "Orang yang benar-benar berhasil dalam Ramadhannya adalah mereka yang keluar dengan hati yang lebih lembut, lebih tawadhu, dan merasa semakin butuh pada pertolongan Allah SWT," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....