Bahaya Ghibah: Menjaga Lisan Demi Ketentraman Hidup Sesama

  • 06 Apr 2026 18:43 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Ghibah atau membicarakan aib orang lain merupakan perbuatan yang sangat berbahaya dan sering kali tidak disadari, terutama di era digital saat ini. Ustadz Saiful Azhar menekankan bahwa meskipun media sosial memudahkan komunikasi, alat ini juga menjadi sarana yang cepat dalam menyebarkan kesalahan orang lain. Berbeda dengan hoaks yang berisi berita palsu, ghibah justru menyampaikan kebenaran namun mengenai hal-hal yang tidak disukai atau memalukan bagi orang yang dibicarakan. Oleh karena itu, umat Muslim diingatkan untuk sangat berhati-hati dalam menggunakan lisan maupun tulisan di media sosial agar tidak terjebak dalam dosa besar ini.

Pentingnya menjaga kehormatan sesama manusia ditegaskan melalui janji Allah bahwa siapa pun yang menutup aib saudaranya di dunia, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Sebaliknya, membuka keburukan orang lain hanya akan mengundang balasan serupa, di mana aib pelakunya pun akan disingkap oleh Allah. Menggunakan nikmat lisan untuk menyebarkan permusuhan adalah bentuk kekufuran terhadap nikmat Allah, karena lisan seharusnya digunakan untuk menyampaikan kebaikan, kedamaian, dan zikir, bukan untuk menciptakan kegaduhan atau menjatuhkan martabat orang lain.

Setiap ucapan manusia tidak pernah luput dari pengawasan malaikat Raqib dan Atid yang mencatat segala amal perbuatan. Dalam tausiahnya, Ustadz mengingatkan bahwa menyebarkan kesalahan seseorang di ruang publik bukanlah sebuah nasihat, melainkan tindakan mempermalukan. Jika seseorang benar-benar peduli, maka cara yang tepat adalah dengan menasihati secara langsung dan pribadi (bil hikmah), bukan mengumbarnya di depan orang banyak. Tindakan brutal dalam membongkar aib hanya akan memicu aksi balas dendam yang tidak berujung dan merusak tatanan sosial.

Dampak dari ghibah di akhirat sangatlah mengerikan, sebagaimana digambarkan dalam kisah Mikraj Nabi Muhammad SAW tentang kaum yang memiliki kuku tembaga. Mereka mencakar wajah dan dada mereka sendiri sebagai balasan karena telah memakan "daging manusia" atau merusak kehormatan orang lain semasa hidup. Lebih sulit lagi, dosa ghibah melibatkan hubungan antarmanusia, sehingga tidak cukup hanya dengan meminta ampun kepada Allah. Pelaku harus mendapatkan maaf langsung dari korbannya, yang sering kali sulit dilakukan jika hubungan sudah retak atau korban telah tiada.

Sebagai kesimpulan, menjaga lisan adalah kunci keselamatan dunia dan akhirat bagi setiap Muslim yang beriman. Sebelum berbicara atau menulis sesuatu, sangat penting untuk bertanya kepada hati nurani mengenai kepantasan informasi tersebut untuk disebarkan. Islam mengajarkan bahwa Muslim yang sejati adalah mereka yang kehadirannya membuat orang lain merasa aman dari gangguan lidah dan tangannya. Dengan membudayakan sikap saling menjaga aib dan berhenti mengikuti arus ghibah, kita dapat mewujudkan kehidupan yang lebih makmur, tenang, dan penuh keberkahan tanpa perselisihan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....