Menjaga Kesucian Jiwa Dengan Kembali pada Fitrah Hakiki

  • 05 Apr 2026 18:09 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Ustadz Saifuddin, Lc., MH memaparkan makna mendalam tentang Idulfitri. Beliau menekankan bahwa momen ini bukan sekadar perayaan kemenangan, melainkan refleksi spiritual untuk kembali pada asal kejadian manusia yang suci. Kembali ke fitrah berarti mengalibrasi ulang kompas moral kita menuju titik nol, di mana setiap individu memiliki kesempatan emas untuk memperbaiki hubungan batin dengan Sang Pencipta dan sesama manusia.

Ustadz Saifuddin, Lc., MH menjelaskan dalam siaran Tausiyah Sore di Pro 1 RRI Lhokseumawe edisi Minggu, 5 April 2026, yang bertepatan dengan 17 Syawal 1447 H, bahwa proses kembali ke fitrah menuntut kita untuk melepaskan segala bentuk ego, kebencian, dan kesombongan yang mungkin mengakar selama setahun terakhir. Melalui tema Idul Fitri dan Kembali ke Fitrah, ditegaskan bahwa saling memaafkan merupakan simbolisasi konkret untuk meruntuhkan dinding pemisah antarmanusia. Dengan hati yang kembali lapang dan suci, seseorang akan merasakan ketenangan batin yang luar biasa karena tidak lagi terbebani oleh sisa-sisa dendam yang merusak kesehatan mental maupun spiritual.

Tantangan terbesar yang dihadapi umat setelah bulan suci berakhir adalah bagaimana menjaga konsistensi nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut narasumber, menjaga fitrah berarti tetap mempertahankan kejujuran, disiplin, dan empati sosial meskipun tekanan duniawi kembali menghampiri secara bertubi-tubi. Kesucian yang telah diraih dengan susah payah harus dijadikan fondasi utama dalam setiap pengambilan keputusan, agar langkah yang ditempuh ke depan selalu selaras dengan nilai-nilai ketuhanan yang telah ditempa selama berpuasa.

Sebagai penutup edukasi religi di Pro 1 RRI Lhokseumawe, ditekankan bahwa Idulfitri adalah garis awal untuk memulai babak kehidupan yang lebih berkualitas. Kembali ke fitrah bukanlah sebuah destinasi akhir, melainkan proses transformasi berkelanjutan untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Dengan memelihara cahaya kesucian di dalam hati pasca-17 Syawal ini, kita diharapkan mampu menjadi agen kedamaian yang memastikan makna Idulfitri tetap hidup dalam perilaku nyata, bukan sekadar menjadi ritual tahunan yang berlalu begitu saja.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....