Ketulusan Guru SLB Lhokseumawe Menginspirasi Dunia Pendidikan Inklusif

  • 05 Apr 2026 07:12 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe — Program “Ruang Disabilitas” yang disiarkan oleh RRI Lhokseumawe pada Sabtu, 4 April 2026 menghadirkan kisah inspiratif dari dunia pendidikan inklusif di Sekolah Luar Biasa (SLB). Dalam program tersebut, Khairiani, S.E., Gr., seorang guru di SLB Kota Lhokseumawe, berbagi pengalaman mendidik siswa berkebutuhan khusus dengan pendekatan penuh empati dan keceriaan.

Khairiani mengungkapkan bahwa pengalaman mengajar di SLB telah mengubah cara pandangnya terhadap profesi guru. Ia menilai bahwa interaksi dengan siswa tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga membangun kedekatan emosional. Sambutan hangat dari para siswa pada hari pertamanya mengajar menjadi momen yang menguatkan tekadnya untuk terus mengabdi.

Dalam praktiknya, Khairiani menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam memahami kondisi emosional siswa yang cenderung dinamis. Ia menjelaskan bahwa guru harus mampu membaca suasana hati anak dan menyesuaikan metode pembelajaran agar tetap kondusif.

Pendekatan humanis dari hati ke hati dinilai penting untuk menjaga kenyamanan dan stabilitas emosi siswa selama proses belajar berlangsung. “Kuncinya adalah sabar, ikhlas, dan mencintai pekerjaan kita dengan tulus agar anak-anak yang kita bimbing merasa aman, nyaman dan dicintai,” ujar Khairiani saat berdialog di studio Pro 1 RRI Lhokseumawe. Menurutnya, pendekatan berbasis kasih sayang jauh lebih efektif dibandingkan metode yang bersifat memaksa.

Selain itu, SLB Kota Lhokseumawe menerapkan kurikulum interaktif yang melibatkan kegiatan seni, olahraga, dan permainan edukatif. Pemanfaatan teknologi seperti TV pintar juga menjadi salah satu strategi untuk membantu siswa, khususnya tunanetra dan tunarungu, dalam memahami materi melalui media audio dan visual.

Namun demikian, Khairiani menyoroti perlunya dukungan dari pemerintah daerah, terutama dalam peningkatan fasilitas dan kesejahteraan tenaga pendidik yang menurutnya masih kurang diperhatikan. Ia menilai bahwa sarana prasarana yang ramah disabilitas, termasuk sanitasi yang layak, menjadi faktor penting dalam menunjang keberhasilan pendidikan inklusif.

Sebagai penutup, Khairiani mengajak masyarakat untuk lebih menghargai penyandang disabilitas. Ia menegaskan bahwa setiap anak memiliki potensi unik yang perlu didukung. Dengan kesempatan yang setara, siswa SLB diyakini mampu berkembang menjadi individu yang mandiri dan percaya diri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....