Rumbia, "Salak Hutan Aceh" yang Kian Langka

  • 02 Apr 2026 15:24 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI. CO. ID, Lhokseumawe - Di sejumlah wilayah Aceh, terutama kawasan rawa dan bantaran sungai, masyarakat dulu sangat akrab dengan buah rumbia atau Boh Meuria. Buah yang tumbuh dari pohon sagu (Metroxylon sagu) ini bahkan punya julukan khas: “salak hutan Aceh.” Bentuknya bulat seukuran bola golf, bersisik kecokelatan, dengan rasa sepat, kelat, dan sedikit kesat di lidah.

Dulu, kehadiran buah ini selalu dinanti saat musimnya tiba. Anak-anak hingga orang dewasa kerap menikmatinya sebagai rujak, asinan, manisan, atau sekadar dimakan langsung dengan garam. Namun kini, buah rumbia mulai jarang terlihat, seolah perlahan menghilang dari ingatan generasi muda.

Bagi masyarakat Aceh, pohon rumbia atau yang dikenal sebagai bak meuria bukan sekadar tanaman liar. Hampir seluruh bagiannya bernilai guna, mulai dari batang penghasil pati sagu, pelepah untuk bahan bangunan, hingga buah yang dipercaya berkhasiat bagi kesehatan.

Khasiat yang Dipercaya Sejak Lama

Salah satu manfaat paling dikenal di tengah masyarakat Aceh adalah sebagai obat diare alami. Buah rumbia yang dimakan langsung dipercaya mampu menghentikan diare karena rasa sepatnya. Secara ilmiah, keyakinan ini punya dasar. Penelitian menunjukkan daging buah rumbia mengandung tanin, flavonoid, dan saponin, senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antibakteri dan antidiare. Ekstrak buah rumbia bahkan terbukti mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus.

Dalam kajian farmasi, tanin dikenal memiliki sifat astringen, yaitu membantu mengerutkan mukosa usus sehingga dapat mengurangi frekuensi buang air besar. Sementara flavonoid berperan sebagai antioksidan dan antiinflamasi alami. Penelitian lain juga menemukan aktivitas antioksidan buah rumbia tergolong sangat kuat.

Sebagai penguat, pakar farmakognosi Prof. Dr. Abdul Mun’im dari Fakultas Farmasi Universitas Indonesia dalam berbagai kajiannya tentang tanaman obat Nusantara menegaskan bahwa senyawa flavonoid dan tanin pada tumbuhan tropis berkontribusi besar terhadap aktivitas antidiare, antimikroba, dan antioksidan. Pendekatan ilmiah ini sejalan dengan pemanfaatan tradisional buah rumbia oleh masyarakat.

Potensi Pangan Masa Depan

Selain dimanfaatkan secara tradisional, buah rumbia juga mulai dilirik sebagai sumber pangan fungsional. Kajian dari IPB menyebut buah rumbia memiliki potensi oligosakarida sebagai prebiotik, yang baik untuk mendukung pertumbuhan bakteri usus yang bermanfaat.

Hal ini menunjukkan bahwa rumbia bukan hanya penting sebagai warisan pangan lokal, tetapi juga memiliki peluang dikembangkan menjadi produk kesehatan dan pangan modern, seperti manisan sehat, asinan fermentasi, hingga bahan minuman herbal.

Kian Sulit Ditemukan

Meski kaya manfaat, keberadaan buah rumbia di Aceh semakin sulit dijumpai. Banyak kawasan rawa yang dahulu menjadi habitat alami pohon ini berubah menjadi permukiman atau lahan pertanian. Di wilayah pesisir, dampak tsunami 2004 juga menyebabkan banyak pohon rumbia mati akibat terendam air asin. Perubahan pola konsumsi masyarakat juga menjadi faktor lain. Makanan modern dan buah-buahan budidaya lebih mudah didapat, membuat buah rumbia kalah populer.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....