Menghindari Sepuluh Perkara Sia-Sia dalam Kehidupan Muslim

  • 17 Mar 2026 06:25 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Dalam kajian "Mutiara Pagi" di RRI Lhokseumawe, Ustadz Muhadar, S.TH menyampaikan nasihat penting mengenai sepuluh perkara yang tidak bermanfaat menurut pandangan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Perkara pertama yang disoroti adalah ilmu yang tidak diamalkan. Memiliki ilmu, baik agama maupun dunia, akan menjadi sia-sia jika tidak diwujudkan dalam tindakan nyata. Ustadz menekankan bahwa meskipun ilmu yang dimiliki sedikit, seperti mengetahui keutamaan salat berjamaah atau membaca Al-Qur'an, mengamalkannya jauh lebih berharga daripada membiarkan pengetahuan tersebut hanya menjadi teori tanpa praktik.

Perkara selanjutnya yang membuat hidup merugi adalah amal yang tidak ikhlas dan harta yang tidak dipersembahkan untuk akhirat. Amal yang dilakukan demi pujian atau popularitas (ria) hanya akan membuat pelakunya cepat lelah dan kehilangan makna saat apresiasi manusia hilang. Begitu pula dengan harta; jika titipan Allah ini hanya dihabiskan untuk urusan duniawi yang konsumtif tanpa menyisihkan infak, sedekah, atau nafkah keluarga yang bernilai ibadah, maka harta tersebut akan menjadi penyesalan di akhirat kelak.

Aspek batiniah juga menjadi perhatian serius, di mana hati yang tidak mencintai Allah serta badan yang tidak digunakan untuk taat dianggap sebagai kesia-siaan besar. Hati yang kosong dari rasa cinta kepada Sang Pencipta cenderung terjebak pada kecintaan yang salah, seperti ambisi jabatan yang berlebihan atau hubungan yang melanggar syariat. Tubuh yang sehat dan panca indra yang lengkap seharusnya menjadi alat untuk mengabdi kepada Allah, bukan justru digunakan untuk melakukan hal-hal yang tidak mendatangkan rida-Nya.

Ustadz Muhadar juga memperingatkan tentang bahaya waktu yang terbuang percuma tanpa memikirkan kebesaran Allah. Waktu luang yang dihabiskan hanya untuk bercakap-cakap kosong atau duduk-duduk tanpa manfaat adalah bentuk kerugian nyata. Akal yang dianugerahkan Allah semestinya digunakan untuk bertafakur atas ciptaan-Nya di langit dan bumi, bukan berputar-putar pada pemikiran negatif atau pengabdian kepada hal-hal yang tidak mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

Sebagai penutup, tausiyah ini mengingatkan agar kita tidak menggantungkan rasa takut dan harapan kepada sesama manusia yang hakikatnya lemah. Berharap kepada makhluk hanya akan mendatangkan kekecewaan dan menjadi perbuatan yang sia-sia. Dengan menjauhi sepuluh perkara ini dan berfokus pada pengabdian kepada Allah, seorang Muslim dapat bertransformasi menjadi pribadi yang mulia. Semoga kita semua dilindungi dari segala kesia-siaan dan senantiasa dibimbing untuk melakukan amal yang mendatangkan manfaat dunia dan akhirat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....