Kekuatan Mendengar, Warisan Akhlak Rasulullah

  • 05 Mar 2026 09:29 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe – Dalam interaksi sosial, kemampuan berbicara seringkali dianggap sebagai keahlian utama. Namun sebenarnya menjadi "Pendengar yang Budiman" justru merupakan kunci kesuksesan dalam dialog dan solusi atas berbagai problematika kehidupan. Hal tersebut di sampaikan oleh Ustadz Gunawan.

Kepada RRI Ustadz Mirza Gunawan menjelaskan bahwa istilah "Pendengar yang Budiman" merupakan sebuah esensi akhlak yang diajarkan kuat dalam Islam. Menurutnya, Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam mempraktikkan the power of listening atau kekuatan mendengar.

Belajar dari Akhlak Rasulullah

Ustadz Mirza Gunawan mengisahkan momen saat Rasulullah menghadapi tokoh kaum kafir Quraisy, Utbah bin Rabiah. Saat itu, Utbah melontarkan berbagai hinaan, makian, dan tuduhan bahwa ajaran Islam merusak tatanan nenek moyang.

"Rasulullah diam dan hanya menjadi pendengar yang budiman. Beliau tidak memotong sekalipun pembicaraan Utbah bin Rabiah, bahkan mendengarkan dengan seksama setiap ocehan dan hinaan yang dikeluarkan," ujar Ustadz Mirza Gunawan

Setelah Utbah selesai bicara dan merasa puas menumpahkan argumennya (seperti gelas yang sudah kosong), barulah Rasulullah berbicara singkat dengan membacakan wahyu Allah. Hasilnya, Utbah justru merasa terenyuh dan tertarik pada Islam karena merasa dihargai dan didengarkan sepenuhnya.

Rahasia Dua Telinga dan Satu Mulut

Ustadz Mirza Gunawan juga mengingatkan filosofi penciptaan manusia yang memiliki dua indra pendengaran namun hanya satu indra untuk berbicara (mulut).

"Artinya apa? Kita harus lebih banyak mendengar daripada berbicara. Ini memaknai bagaimana Islam mengajarkan kita saat berada dalam sebuah situasi atau dialog," jelasnya

Beliau mengutip pemikiran Les Giblin dalam buku Skill with People, yang menyebutkan bahwa teknik mendengarkan adalah 100% keberhasilan dalam hubungan antarmanusia.

Solusi Masalah Rumah Tangga dan Sosial

Lebih lanjut, ditekankan bahwa sikap menjadi pendengar yang budiman adalah solusi bagi masalah keluarga, baik antara suami-istri maupun orang tua dan anak. Seringkali, seseorang hanya butuh didengarkan agar perasaannya tenang, sehingga masalah bisa dianggap selesai tanpa perlu perdebatan panjang.

"Ketika kita mampu mendengarkan pasangan kita, mendengarkan anak-anak kita, sebenarnya masalahnya sudah selesai sampai di situ," tambahnya

Sebagai penutup, Ustadz MIrza Gunawan mengajak untuk menjadikan sikap mendengar sebagai inspirasi dan motivasi dalam menghadapi setiap persoalan. Menjadi pendengar yang baik bukan berarti kalah, melainkan bentuk kebijaksanaan dalam memahami orang lain sebelum ingin dipahami.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....