Euforia Ekraf dan Sunyi Pengungsian, Dua Wajah Ramadhan di Tanah Pase

  • 27 Feb 2026 21:02 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID. Lhokseumawe - Di bawah sorotan lampu dan panggung hiburan Ramadhan, Teuku Riefky Harsya meresmikan Bazar Ramadhan Lhokseumawe 2026 di Lapangan Hiraq, Pemerintah menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari strategi mendorong brand lokal menembus pasar nasional hingga global serta memperkuat ekonomi kreatif daerah.

Wali Kota Sayuti Abubakar apresiasi atas dukungan anggaran Rp600 juta dari Kementerian Ekraf. Ia menilai bazar ini menjadi momentum kebangkitan UMKM pascabencana serta ruang promosi bagi pelaku usaha, termasuk dari wilayah sekitar.

Namun di balik kemeriahan stan kuliner dan promosi produk kreatif itu, realitas berbeda masih terasa tak jauh dari pusat kota. Secara geografis, Kota Lhokseumawe berada tepat di tengah-tengah wilayah Aceh Utara kabupaten yang dalam beberapa bulan terakhir dilanda banjir bandang di sejumlah desa.

Transisi dari duka ke perayaan ini dinilai sebagian kalangan terasa terlalu cepat. Saat sebagian warga Aceh Utara masih berupaya memulihkan rumah dan usaha mereka, panggung hiburan dan klaim bazar terbesar justru tampil dominan di kota yang dikelilingi wilayah terdampak tersebut.

“Bukan tidak setuju dengan bazar, tapi waktunya terasa kurang tepat. Saudara kami di Aceh Utara masih berbenah,” ujar Rahmad (42), warga Muara Dua, Lhokseumawe.Jumat 27 Pebruari 2026.

Nurhayati (38), warga Matangkuli, Aceh Utara, mengaku hingga kini masih memulihkan usaha kecilnya pascabanjir. “Kami masih butuh perhatian lebih. Kadang terasa seperti tidak ada empati ketika kota di tengah kami merayakan acara besar,” katanya.

Irwansyah (50), warga Syamtalira Bayu, juga mempertanyakan prioritas kebijakan. “Kalau memang untuk kebangkitan ekonomi bersama, seharusnya fokus pemulihan desa-desa terdampak diperjelas dulu. Jangan sampai terlihat kota meriah sendiri,” ujarnya.

Meski pemerintah menyebut bazar ini bagian dari upaya membangkitkan semangat ekonomi pascabencana, sebagian warga menilai pesan solidaritas terhadap daerah terdampak belum tergambar kuat dalam narasi kegiatan. Kegiatan lima hari dengan panggung hiburan, promosi, dan seremoni pejabat dianggap belum menjawab kebutuhan mendasar penyintas yang masih berjuang.

Di satu sisi, geliat ekonomi kreatif memang penting untuk menjaga roda ekonomi tetap berputar. Namun di sisi lain, dalam konteks kota yang berada di jantung Aceh Utara, sensitivitas sosial menjadi ukuran yang tak kalah penting.

Bazar mungkin menghadirkan optimisme dan perputaran uang dalam jangka pendek. Tetapi bagi sebagian warga di wilayah terdampak, yang lebih dinanti bukanlah gemerlap panggung, melainkan kepastian pemulihan dan perhatian yang terasa nyata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....