Hijrah Anak Muda, Tren Sesaat atau Mindset?

  • 17 Feb 2026 10:03 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID Lhokseumawe – Fenomena hijrah di kalangan anak muda kembali menjadi topik hangat dalam obrolan program SPADA (Selamat Pagi Teman Pro2) RRI Lhokseumawe, Selasa, 17 Februarib2026. Dipandu Dhera, perbincangan pagi itu terasa santai namun sarat makna saat menghadirkan narasumber Nurkhofifah, seorang mahasiswi yang aktif di berbagai komunitas kampus. Tema yang diangkat, “Hijrah Anak Muda: Tren Sesaat atau Peristiwa Mindset?”, memantik diskusi yang relevan dengan realitas generasi hari ini.

Dalam perbincangan tersebut,

Dhera membuka dialog dengan menyoroti maraknya konten hijrah di media sosial. Mulai dari perubahan gaya berpakaian, unggahan kajian, hingga testimoni “titik balik kehidupan” menjadi warna tersendiri di linimasa anak muda. “Apakah ini sekadar tren yang muncul karena algoritma, atau benar-benar perubahan cara berpikir?” tanya Dhera mengawali diskusi.

Nurkhofifah menilai, fenomena hijrah tidak bisa dipukul rata sebagai tren semata. Menurutnya, bagi sebagian anak muda, hijrah adalah proses refleksi diri yang lahir dari pengalaman personal. “Ada yang memang tersentuh karena kehilangan, kegagalan, atau fase pencarian jati diri. Dari situ muncul kesadaran untuk berubah, bukan cuma ikut-ikutan,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa perubahan mindset biasanya terlihat dari konsistensi sikap, bukan sekadar penampilan.

Meski demikian, Nurkhofifah tidak menampik bahwa ada pula yang memulai hijrah karena pengaruh lingkungan atau figur publik. Namun, ia melihat hal tersebut sebagai pintu awal yang positif. “Kalau awalnya karena tren tapi kemudian dipahami dan dijalani dengan kesadaran, itu tetap proses yang baik,” jelasnya. Ia menekankan bahwa hijrah bukan perlombaan siapa yang paling cepat berubah, melainkan perjalanan yang berbeda bagi setiap individu.

Dalam diskusi itu juga dibahas tantangan yang kerap dihadapi anak muda saat berhijrah, seperti komentar negatif, tekanan sosial, hingga rasa tidak konsisten. Dhera menyoroti pentingnya ruang diskusi yang sehat agar hijrah tidak menjadi ajang saling menghakimi. Keduanya sepakat bahwa dukungan lingkungan dan komunitas berperan penting dalam menjaga semangat perubahan agar tidak berhenti di tengah jalan.

Menutup obrolan SPADA pagi itu, Nurkhofifah menyimpulkan bahwa hijrah anak muda bukan sekadar tren sesaat, melainkan bisa menjadi peristiwa perubahan mindset jika dijalani dengan kesadaran dan komitmen. “Yang terpenting bukan terlihat berubah, tapi benar-benar bertumbuh,” tutupnya. Perbincangan hangat tersebut menjadi refleksi bersama bahwa setiap proses hijrah adalah perjalanan personal yang layak dihargai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....