Tips Nyuci Anak Rantau
- 19 Jan 2026 10:23 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Bagi banyak anak rantau, hidup di kos adalah fase belajar mandiri yang sesungguhnya. Bukan cuma soal mengatur uang atau waktu, tapi juga urusan sederhana yang dulu sering luput dari perhatian, seperti mencuci baju.
Dari kaus putih yang mendadak kusam sampai aroma apek yang menolak pergi, mencuci kerap jadi tantangan kecil yang terasa besar saat harus dihadapi sendirian. Kesalahan paling umum biasanya dimulai dari satu hal, semua baju masuk mesin cuci tanpa dipilah. Padahal, Cleanipedia mengingatkan bahwa memisahkan pakaian berdasarkan warna dan jenis bahan penting untuk menjaga warna tetap awet dan kain tidak cepat rusak. Baju putih, gelap, dan berwarna sebaiknya tidak dicampur, terutama untuk cucian pertama.
Masalah berikutnya adalah takaran deterjen. Banyak anak kos berpikir semakin banyak deterjen, semakin bersih hasilnya. Kenyataannya justru sebaliknya.
Menurut Good Housekeeping, penggunaan deterjen berlebihan bisa meninggalkan residu pada kain dan memicu bau tak sedap, apalagi jika air bilasan kurang maksimal. Takaran secukupnya justru lebih efektif dan ramah di kantong.
Soal bau apek juga jadi keluhan klasik. Baju yang terlalu lama dibiarkan di mesin cuci atau dijemur di tempat minim sirkulasi udara sering kali jadi penyebabnya. Kompas Lifestyle mencatat bahwa menjemur pakaian di area yang terkena angin, meski tanpa matahari langsung, tetap membantu mengurangi kelembapan penyebab bau. Jika terpaksa menjemur di dalam kamar, kipas angin bisa jadi solusi sederhana.
Untuk anak kos yang masih mencuci manual, tantangannya berbeda. Mengucek terlalu keras sering membuat kain cepat melar, sementara membilas asal-asalan bikin baju terasa kaku, merendam pakaian terlalu lama juga tidak disarankan, terutama untuk bahan tipis, karena bisa merusak serat kain.
Seiring waktu, banyak anak rantau akhirnya menemukan ritme sendiri dalam urusan mencuci. Ada yang menjadwalkan laundry mingguan, ada pula yang memilih mencuci sedikit tapi rutin. Tak ada cara yang benar atau salah yang ada hanyalah cara yang paling cocok dengan kondisi kos, waktu, dan energi masing-masing.
Pada akhirnya, mencuci bukan sekadar soal baju bersih. Ia menjadi bagian dari proses berdamai dengan hidup mandiri—belajar teliti, sabar, dan bertanggung jawab pada hal-hal kecil yang membentuk keseharian.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....