Trauma Pascabanjir dan Longsor di Aceh
- 22 Des 2025 23:21 WIB
- Lhokseumawe
KBRN , Lhokseumawe : Setelah banjir surut di sejumlah wilayah Aceh, tantangan baru yang muncul adalah pemulihan psikososial warga. Tidak sedikit keluarga yang mengalami stres, kecemasan, bahkan gejala trauma pascakerboncohan (post-disaster stress) akibat pengalaman kehilangan harta benda dan perubahan rutinitas hidup sehari-hari.
Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, dalam dua minggu pascabanjir, lonjakan konsultasi kesehatan mental meningkat sekitar 32 persen di puskesmas wilayah terdampak, dengan gejala paling sering dilaporkan berupa sulit tidur, kecemasan berlebihan, khususnya pada saat hujan turun, hingga gangguan makan. (Sumber: Dinas Kesehatan Aceh, data internal 2025).
Fenomena ini sejalan dengan temuan dalam Journal of Traumatic Stress yang menyebutkan bahwa korban bencana alam memiliki risiko tinggi mengalami gangguan stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder, PTSD), terutama bila kehilangan signifikan terjadi pada harta, tempat tinggal, atau anggota keluarga. Penelitian tersebut menekankan pentingnya intervensi psikososial awal untuk mencegah kondisi psikologis bertambah buruk. (Journal of Traumatic Stress, Vol. 34, Issue 5, 2021).
Upaya pemulihan kini mulai dilakukan oleh tim kesehatan dan relawan sosial di berbagai gampong. Di Pidie Jaya, sebuah program community healing digelar melibatkan fasilitator lokal untuk memberikan ruang bercerita, relaksasi kelompok, serta aktivitas kreatif seperti seni dan permainan anak sebagai bentuk terapi nonformal. Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari warga.
Akademisi dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Rina Hartati, menyatakan bahwa model pemulihan yang efektif adalah yang menggabungkan pendekatan profesional dengan dukungan komunitas. Dalam jurnal International Journal of Disaster Risk Reduction, Prof. Rina dan timnya menyimpulkan bahwa dukungan sosial dan interaksi komunitas berperan signifikan dalam mengurangi gejala trauma pascabencana, terutama jika dilakukan dalam fase awal penanganan pascabanjir. (International Journal of Disaster Risk Reduction, Volume 66, 2022).
Selain itu, fasilitas layanan kesehatan jiwa di wilayah terdampak kini terus ditingkatkan, termasuk pelibatan psikolog klinis secara bergilir di puskesmas dan posko kesehatan. Pemerintah kabupaten bersama Dinas Sosial juga menjadwalkan pelatihan fasilitator komunitas dalam rangka membangun kapasitas lokal untuk mendukung pemulihan jangka panjang.
Banjir memang telah surut, tetapi bekasnya masih tertinggal dalam pikiran banyak warga. Pemulihan psikososial menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa masyarakat tidak hanya bangkit secara fisik, tetapi juga pulih secara emosional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....