Letda (Purn) Bayani dan Kisah Heroik Mapenduma 1996

  • 11 Agt 2025 17:05 WIB
  •  Lhokseumawe

KBRN, Jakarta: Belum lama ini, Presiden RI Prabowo Subianto memberikan tanda kehormatan bintang sakti kepada Letda (Purn) Darius Bayani, tepatnya pada Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer di Landasan Suparlan, Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khusus (Pusdiklatpassus) TNI AD, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (10/8/2025).

Bintang Sakti diberikan sebagai penghargaan kepada prajurit yang menunjukkan keberanian, keperwiraan, dan jasa luar biasa dalam pertempuran atau operasi militer strategis baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Bayani mendapat Bintang Sakti atas jasa-jasanya saat berdinas di TNI khususnya ketika ikut dalam Operasi Mapenduma di Papua tahun 1996. Operasi Mapenduma adalah operasi militer pembebasan 11 Warga Negara Asing dan Warga Negara Indonesia (WNA-WNI) peneliti dari Tim Ekspedisi Lorentz '95 yang disandera Organisasi Papua Merdeka di Mapenduma, Jayawijaya, Papua.

Operasi dipimpin Prabowo Subianto yang kala itu Komandan Jenderal Kopassus dengan pangkat Brigjen. Operasi berlangsung 130 hari dari 8 Januari hingga 9 Mei 1996.

Selain itu, mengenai peran Letda Darius Bayani di Operasi Mapenduma ini pernah diceritakan Prabowo dalam bukunya yang berjudul "Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto".

"Serka Bayani adalah putra daerah Papua. Dia terkenal di Kopassus. Orangnya tenang, berani, memiliki kemampuan luar biasa dalam menembak, dan memiliki kemampuan membaca jejak. Dalam operasi di Papua beliau biasanya tidak menggunakan sepatu. Hanya memakai celana pendek," tulis Prabowo menggambarkan sosok Bayani, sebagaimana dikutip dari Suara.com.

Menurut Prabowo, Bayani bisa menginfiltrasi ke camp musuh. Karena musuh mengira Bayani bagian dari mereka, membuatnya berhasil menewaskan beberapa musuh dan merebut tiga sampai empat pucuk senjata dalam sekali operasi. Secara keseluruhan, beliau berhasil merebut lebih dari 100 pucuk senjata dari tangan musuh.

Saat Operasi Mapenduma, Bayani adalah pemimpin Tim Kasuari, tim inti pembaca jejak yang terdiri dari pasukan Kopassus dan pasukan Kodam Cenderawasih. Tim ini semuanya putra daerah. Tugas mereka adalah masuk ke daerah yang paling sulit.

Ketika operasi akan dimulai, Prabowo mendapat informasi dari peninjau asal Inggris bahwa mereka telah berhasil menyelundupkan satu alat beacon pada saat mereka menitip obat-obatan, makanan, pakaian melalui Palang Merah Internasional kepada para sandera.

Beacon ini bisa memberi sinyal dan menentukan exact location. Mereka menggunakan helikopter untuk mencari sinyal beacon tersebut. Setelah sinyal tersebut tertangkap dari atas helikopter, mereka menentukan exact location sasaran.

"Setelah kami cek, titik sasaran berada di suatu gunung yang tinggi dan bisa kelihatan dari posko saya. Namun, keberadaan titik tersebut di luar enam sasaran yang diberikan oleh Tim Intelijen saya," ujar Prabowo.

Dihadapkan pada dua pilihan yang berbeda, membuat Prabowo menggunakan instingnya untuk bertanya pada orang yang berpengalaman dan menguasai wilayah tersebut.

Dia lalu memanggil Bayani meminta tanggapannya atas informasi yang diberikan oleh Pakar dari Inggris tersebut. Bayani tidak percaya terhadap data dari sinyal beacon.

Bayani kemudian memberikan penjelasan yang saya tidak pernah lupa setelah sekian puluh tahun. "Dengan logat khas Papua dia mengatakan, "Bapak, jangankan Kelly Kwalik, monyet pun tidak mau tinggal di situ. Tidak ada air di situ. Bapak, bagaimana sekian puluh orang berada di atas tanpa air."

Mendengar argumen Bayani membuat Prabowo mengambil keputusan untuk lebih percaya kepada anak buahnya itu ketimbang teknologi canggih buatan Eropa.

Prabowo memutuskan untuk menyerang enam titik sesuai hasil kajian Tim Intelijen. Instingnya terbukti benar. Pasukan Prabowo berhasil membebaskan sandera walaupun ada korban. Dari 26 sandera, tiga orang dibunuh oleh penyandera. Sisanya lepas termasuk semua orang asing.

"Saya merasa sangat bangga atas keberhasilan ini. Namun, sekarang saya sadar bahwa keberhasilan itu juga karena adanya keberanian dan ketegasan seorang bintara. Dengan percaya diri, dia berhasil meyakinkan seorang jenderal, seorang perwira tinggi Indonesia. Dia telah berperan besar dalam menyelamatkan wajah bangsa Indonesia," ujar Prabowo memuji Bayani.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....