Universitas Samudra Berdayakan Perempuan Lewat Dapur Hijau
- 20 Agt 2026 16:29 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Tamiang – Universitas Samudra menghadirkan inovasi pemulihan ketahanan pangan keluarga di Desa Paya Udang, Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang, melalui Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM). Program bertajuk “Pemberdayaan Perempuan melalui Inovasi Dapur Hijau untuk Penguatan Resiliensi Pangan Keluarga Pascabencana” tersebut menyasar masyarakat yang masih menghadapi dampak banjir, terutama ketika pekarangan rumah belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Kegiatan dilaksanakan bersama TP-PKK Kampung Paya Udang dan didukung pendanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026.
Ketua tim pelaksana, Zidni Ilman Navia, mengatakan konsep Dapur Hijau dirancang agar keluarga tetap dapat menghasilkan sayuran dan tanaman kebutuhan sehari-hari meskipun kondisi tanah pekarangan belum pulih. Sebagian lahan warga masih berlumpur, lembap dan berpotensi tergenang sehingga budidaya langsung di tanah menjadi kurang optimal. Melalui penggunaan media tanam dalam wadah serta rak bedengan yang dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah, masyarakat dapat kembali melakukan kegiatan bercocok tanam dengan sistem yang lebih bersih dan sesuai dengan kondisi pascabanjir. Kamis 20 Agustus 2026.
Program ini menempatkan perempuan, khususnya kader TP-PKK, sebagai motor utama pemulihan pangan keluarga. Sebanyak 20 rumah tangga terdampak dan rentan menjadi sasaran awal program. Para peserta mendapatkan pelatihan mulai dari penyemaian, penyiapan media tanam, pemindahan bibit, pemeliharaan, pengendalian organisme pengganggu tanaman hingga proses panen. Tidak berhenti pada pelatihan, kader juga dipersiapkan menjadi pendamping bagi keluarga lain agar pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat terus menyebar di tingkat masyarakat.
Untuk memperkuat keberlanjutan, tim Universitas Samudra bersama TP-PKK juga mengembangkan Bank Bibit Desa sebagai pusat penyemaian, perawatan dan distribusi bibit sayuran serta tanaman bumbu. Pelaksanaan program turut mendapat dukungan teknis dari penyuluh pertanian BPP Wilayah Seruway, Saleh, S.P. dan Nur Cahaya, S.P. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kampung, kelompok perempuan, penyuluh dan masyarakat tersebut diharapkan mampu membangun sistem pemulihan pangan yang tidak bergantung pada pendampingan kampus semata, tetapi dapat dikelola secara mandiri oleh masyarakat.
Rangkaian program yang dimulai sejak Juni 2026 itu berlanjut melalui sosialisasi, pelatihan dan praktik budidaya hingga Agustus, kemudian memasuki tahap pendampingan serta monitoring dan evaluasi sampai September.
Tim akan melihat perkembangan tanaman, kemampuan masyarakat menerapkan teknologi, pengelolaan Bank Bibit Desa serta keberlanjutan kegiatan di tingkat rumah tangga. Lebih dari sekadar menyediakan sarana bercocok tanam.
Dapur Hijau diharapkan menjadi model pemulihan pangan berbasis komunitas yang dapat memperkuat peran perempuan, mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar serta menjadi contoh yang dapat diterapkan di wilayah lain yang menghadapi persoalan serupa setelah bencana.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....