Film Dokumenter Aceh 'Hikayatussistance' Tembus Festival di Jerman hingga Ukraina
- 04 Agt 2026 10:53 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe – Film dokumenter hibrida asal Aceh, Hikayatussistance, terus melebarkan sayapnya dan mengukir prestasi di kancah perfilman global. Karya garapan sutradara Muhammad Hendri ini dijadwalkan akan tayang pada ajang bergengsi Un•colonial International Film Festival 2026 di Münster, Jerman, pada 23-27 Agustus mendatang.
Pencapaian tersebut terbilang istimewa, pasalnya film berdurasi 18 menit 52 detik ini berhasil terpilih dari lebih dari 2.000 karya yang berasal dari 120 negara di seluruh dunia. Festival ini sendiri dikenal memposisikan sinema sebagai praktik anti kolonial yang menyoal ingatan, tanah, diaspora, arsip, dan kekuasaan.
Produser Hikayatussistance, Muhammad Maulana mengatakan, masuknya film ini ke Jerman menjadi kelanjutan perjalanan panjang distribusi film sejak April 2026. Sebelumnya, film produksi Aceh Menonton Films ini juga berhasil menembus program pemutaran di 100 sekolah di Ukraina, usai diseleksi dari lebih dari 2.500 film pada ajang ICJ International Film Award 2026.
"Tradisi tutur Aceh bertemu dengan pembicaraan global tentang ingatan, kuasa, pendidikan, spiritualitas, dan warisan kolonial. Kami berusaha merawat konteks lokalnya dengan teliti, lalu membuka ruang agar audiens yang berbeda dapat membaca film ini dari pengalaman mereka sendiri," ungkap Maulana dalam siaran pers yng diterima RRI, Senin 3 Agustus 2026.

Film Hikayatussistance mengangkat pesona tradisi seni tutur Aceh dengan menampilkan seniman hikayat, Fuadi Klayu, yang melantunkan sebuah karya bertajuk 'Dongeng Sebelum Gulita' di dalam sebuah ruangan merah. Melalui perpaduan performatif, arsip, dan konstruksi visual, film ini menempatkan hikayat tidak sekadar sebagai seni, melainkan sebagai ingatan hidup, ekspresi sosial-politik, serta ideologi perlawanan.
Menanggapi pencapaian ini, Sutradara Muhammad Hendri menjelaskan secara mendalam mengenai bentuk dokumenter hibrida yang ia garap. "Bagi saya, dokumenter hibrida adalah praktik penciptaan yang mempertemukan riset, ideologi dan estetika untuk mentransformasikan kenyataan menjadi pengalaman sinematik dengan gaya, kepentingan atau subjektivitas pembuatnya ditambah kebijaksanaan formalisme sinema dan pelbagai gabungan estetika 6 pendekatan dokumenter ala Nichols," ungkap Hendri saat dihubungi melalui pesan Whatsapp.
Pendekatan tersebut dipilih agar audiens tidak sekadar menonton sebuah karya audio visual.
"Harapannya supaya penonton tidak hanya mengetahui dunia, tetapi mengalami cara baru untuk melihat, merasa, mendengar, mengalami dan memaknainya," kata Hendri.
Lebih lanjut, Hendri menambahkan bahwa perjalanan Hikayatussistance membuktikan bahwa dokumenter hibrida memiliki fleksibilitas tinggi untuk memasuki ragam konteks kuratorial tanpa kehilangan identitas estetikanya. Sepanjang April hingga Agustus 2026, film ini telah berkeliling di berbagai ruang pemutaran, mulai dari CineDocx dan International Djogja Earthsound Fest 2026 di Yogyakarta, UCIFEST 17 di Tangerang, Bakaba Sinema di Sumatra Barat, hingga Internațional Open Frame Galați 2026 di Rumania.
Di Aceh sendiri, film Hikayatussistance sebenarnya telah lebih dulu dipertontonkan dan diapresiasi oleh publik secara langsung pada tahun 2025 lalu. Bagi masyarakat luas yang penasaran dan ingin melihat sekilas gambaran puitis dari karya ini, teaser maupun trailer resmi film sudah tersedia dan dapat disaksikan melalui platform YouTube.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....