Bea Cukai Ungkap Penyebab Penurunan Ekspor Kopi Aceh dalam Dua Tahun Terakhir

  • 09 Jun 2026 05:34 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Kinerja ekspor kopi Aceh dalam dua tahun terakhir menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan. Data Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Aceh mencatat nilai devisa ekspor komoditas unggulan tersebut terus mengalami penyusutan meskipun harga kopi di pasar global sedang berada dalam tren positif. Senin 8 Juni 2026.

Berdasarkan data kepabeanan periode Januari hingga April 2026, nilai devisa ekspor kopi Aceh tercatat sebesar Rp440,99 miliar. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang mencapai Rp619,21 miliar, serta tahun 2024 sebesar Rp925,67 miliar.

Sementara itu, jika dihitung dalam satu tahun penuh, total devisa ekspor kopi Aceh pada 2024 mencapai Rp2,45 triliun. Namun pada 2025 nilainya turun drastis menjadi Rp1,21 triliun.

Kepala Kantor Wilayah DJBC Aceh, M. Rizki Baidillah, mengatakan penurunan tersebut dipengaruhi oleh berkurangnya volume ekspor yang dilakukan sejumlah perusahaan eksportir. Beberapa perusahaan yang sebelumnya menjadi kontributor utama ekspor kopi pada 2024 tidak lagi tercatat melakukan aktivitas ekspor pada tahun berikutnya.

Selain itu, sebagian besar perusahaan yang masih aktif melakukan ekspor juga mengalami penurunan volume pengiriman dibanding tahun sebelumnya.

“Dari hasil analisis data kepabeanan, terdapat beberapa perusahaan yang sebelumnya berkontribusi besar terhadap ekspor kopi Aceh, namun tidak lagi melakukan kegiatan ekspor pada 2025. Kondisi ini turut memengaruhi total volume ekspor,” ujarnya.

DJBC Aceh juga mencatat sekitar 99 persen ekspor kopi asal Aceh masih dikirim melalui pelabuhan muat di luar provinsi. Kondisi tersebut menunjukkan rantai distribusi dan logistik komoditas kopi Aceh masih sangat bergantung pada fasilitas pelabuhan di daerah lain.

Menurut Rizki, data tersebut penting menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, hingga sektor pendukung lainnya. Evaluasi diperlukan untuk mengetahui secara lebih rinci faktor-faktor yang memengaruhi penurunan volume ekspor di tengah meningkatnya harga kopi dunia.

Ia menilai penyajian data kepabeanan dapat menjadi referensi objektif dalam merumuskan langkah strategis guna memperkuat daya saing dan meningkatkan ekspor kopi Aceh ke depan.

“Secara agregat terjadi penurunan volume pengiriman kopi, meskipun pada saat yang sama harga rata-rata kopi di pasar global sedang mengalami kenaikan. Ini menjadi fenomena yang perlu dicermati bersama,” katanya.

Sebagai salah satu daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia, Aceh memiliki potensi besar untuk terus memperluas pasar ekspor. Namun, diperlukan sinergi antara pemerintah, eksportir, petani, dan pelaku industri agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....