KTNA Lhokseumawe Menilai Bahan Baku MBG Masih Didominasi Pasokan Luar Aceh

  • 17 Apr 2026 14:50 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID,Lhokseumawe - Sekretaris Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Lhokseumawe, Sugito Tasan, menilai pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Lhokseumawe belum memberikan dampak signifikan bagi petani lokal. Pasalnya, mayoritas bahan baku pangan yang disajikan masih didatangkan dari luar daerah.

Menurut Sugito, serapan hasil pertanian dan peternakan lokal Lhokseumawe dalam program pemenuhan gizi siswa ini masih sangat minim. Ia mencontohkan komoditas telur yang hingga saat ini masih dipasok dalam jumlah besar dari Sumatera Utara.

"Untuk kebutuhan telur, kita di Lhokseumawe belum memiliki industri yang mencukupi, sehingga pasokannya masih lebih banyak dari Medan, Sumatera Utara. Begitu juga dengan buah-buahan," ujar Sugito saat dikonfirmasi RRI, Jumat 17 April 2026.

Sugito menyoroti ketidaksesuaian antara menu yang disajikan dengan potensi hasil bumi yang ada di Lhokseumawe dan sekitarnya. Menurut pantauannya di beberapa sekolah, menu seperti susu, buah klengkeng, hingga jeruk manis hampir seluruhnya bukan merupakan hasil produksi petani setempat.

"Saya perhatikan ada jeruk manis, ada roti, ada telur. Itu hampir sama sekali bukan diproduksi di sini. Paling ada roti produksi Mon Geudong, tapi itu pun kapasitasnya tidak setiap hari digunakan untuk kebutuhan tersebut," jelasnya.

Ia menyayangkan jika program nasional yang menghabiskan anggaran besar ini justru lebih banyak menyerap produk "impor" dari luar daerah dibandingkan memberdayakan petani lokal.

Lebih lanjut, Sugito mendorong pemerintah untuk segera membangun integrasi antara sektor pertanian dengan penyusunan menu program MBG. Ia menegaskan perlunya blueprint (cetak biru) pembangunan ekonomi sektor pertanian yang terintegrasi agar dana yang bergulir dapat dirasakan oleh masyarakat lokal.

"Maunya harus terintegrasi antara sektor pertanian di Lhokseumawe dengan menu yang disajikan. Harus ada sentra-sentra industri yang dibangun baik di Lhokseumawe maupun Aceh Utara untuk memasok kebutuhan MBG ini," tegas Sugito.

Tanpa adanya skema integrasi yang jelas, KTNA khawatir program Makan Bergizi Gratis hanya akan menjadi pasar bagi produk luar daerah, sementara petani di Lhokseumawe hanya menjadi penonton di tengah bergulirnya program strategis tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....