Karhutla di Lhokseumawe Capai 18 Kasus Awal 2026, Didominasi Wilayah Perbukitan
- 14 Apr 2026 15:25 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe- Komandan Regu B Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Lhokseumawe, Ridwan, menyampaikan bahwa potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Lhokseumawe pada musim kemarau tahun 2026 belum menunjukkan peningkatan signifikan. Namun demikian, kejadian karhutla tetap terjadi sejak awal tahun. Berdasarkan data Damkar, sejak Januari hingga Maret 2026 tercatat sebanyak 18 kasus kebakaran hutan dan lahan.
Ridwan menjelaskan, kejadian karhutla tersebut tersebar di sejumlah wilayah, dengan titik paling rawan berada di Kecamatan Muara Satu dan Muara Dua. Di Muara Satu, beberapa kawasan yang kerap menjadi lokasi kebakaran di antaranya Blang Panyang, Meria Palu, Padang Sakti, hingga Meulang Panjang. Sementara di Muara Dua, kondisi geografis berupa perbukitan juga menjadi tantangan tersendiri bagi petugas saat melakukan pemadaman.
“Wilayah perbukitan dengan kontur yang terjal menjadi kendala utama di lapangan. Risiko bagi petugas cukup tinggi, karena jika terpeleset bisa langsung jatuh ke bawah,” ujar Ridwan saat dialog di RRI, Selasa 14 April 2026.
Dari total kejadian tersebut, luas lahan yang terbakar relatif tidak terlalu besar. Ridwan menyebut, kebakaran terluas hanya mencapai sekitar 1,5 hektare. Ia menilai, kondisi ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, terutama selama bulan Ramadan yang biasanya rawan kebakaran.
“Alhamdulillah, tahun ini selama bulan puasa kita tidak sampai harus berjibaku hingga waktu berbuka seperti sebelumnya,” katanya.
Meski demikian, faktor penyebab karhutla masih didominasi oleh aktivitas manusia. Ridwan mengungkapkan, praktik pembakaran sampah serta pembukaan lahan dengan cara dibakar masih kerap ditemukan di lapangan. Bahkan, tidak jarang pelaku berusaha menghindari tanggung jawab saat petugas tiba di lokasi.
“Masih ada yang membuka lahan dengan cara dibakar. Saat kita datang, sering kali tidak ada yang mengaku. Bahkan ada yang sengaja berpindah lokasi setelah membakar,” ungkapnya.
Selain karhutla, Damkar Lhokseumawe juga mencatat peningkatan kasus kebakaran lainnya, seperti kebakaran sampah, tumpukan barang bekas, serta kayu. Secara keseluruhan, hingga Maret 2026 tercatat sekitar 32 kejadian kebakaran dari berbagai jenis.
Ridwan menambahkan, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025, jumlah kejadian karhutla tahun ini cenderung menurun. Pada tahun sebelumnya, bahkan dalam satu bulan saja jumlah kejadian sudah melampaui total dalam beberapa bulan awal 2026.
Untuk mengantisipasi potensi kebakaran yang dapat terjadi sewaktu-waktu, Damkar Lhokseumawe tetap siaga penuh selama 24 jam. Pihaknya juga terus memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui penyebaran nomor kontak darurat hingga ke tingkat dusun, khususnya di wilayah rawan seperti Blang Panyang, Meria Palu, dan Padang Sakti.
“Kami selalu siap 1x24 jam. Begitu ada laporan, kami langsung bergerak ke lokasi dengan memastikan alamat yang jelas. Dukungan masyarakat juga sangat membantu, karena sebagian besar sudah menyimpan nomor kontak Damkar,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....