Pentingnya Literasi Keuangan Demi Menjaga Ketahanan Ekonomi Keluarga
- 13 Feb 2026 23:03 WIB
- Lhokseumawe
RRI.Co.ID, Lhokseumawe - Program Beranda Asta Cita yang disiarkan oleh RRI Pro Satu Lhokseumawe pada Jumat, 13 Februari 2026 menghadirkan Nurhasanah, SE., MSi., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dian Nusantara.
Dalam dialog bertajuk “Perempuan, Literasi Keuangan, dan Kekuatan Ekonomi Keluarga”, Nurhasanah menegaskan pentingnya literasi keuangan bagi perempuan sebagai pilar utama pengelolaan ekonomi rumah tangga.
Menurut Nurhasanah, perempuan memegang peranan sentral dalam menjaga stabilitas keuangan keluarga. “Perempuan harus melek keuangan dan memiliki literasi yang baik karena dari tangan merekalah arah pengelolaan ekonomi keluarga ditentukan,” ujarnya dalam dialog berdurasi satu jam tersebut.
Ia menjelaskan, langkah awal yang perlu dipahami adalah membedakan antara kebutuhan dan keinginan (needs and wants). Selain itu, perempuan perlu memiliki arus kas (cash flow) yang sehat dengan menyusun pos pengeluaran secara seimbang agar pemasukan dan pengeluaran tetap terkendali.
“Upayakan memiliki tabungan minimal tiga kali pengeluaran bulanan. Hindari utang konsumtif, tetapi tidak masalah memiliki cicilan untuk hal produktif seperti membeli rumah atau modal usaha, dengan syarat maksimal 30 persen dari penghasilan,” jelasnya. Ia juga mendorong perempuan melirik instrumen investasi seperti emas serta memanfaatkan peluang ekonomi digital, misalnya menjadi kreator konten atau afiliasi.
Lebih lanjut, Nurhasanah menekankan pentingnya pemahaman terhadap risiko keuangan. Dengan literasi yang memadai, perempuan diharapkan mampu mengambil keputusan finansial secara bijak dan terukur, sehingga tidak mudah terjebak pada tawaran yang merugikan.
Terkait utang, ia mengingatkan agar masyarakat tidak panik ketika membutuhkan dana. “Jangan mengambil jalan pintas dengan berutang karena panik. Berutanglah hanya untuk kebutuhan produktif, catat seluruh utang beserta bunganya, dan lunasi yang berbunga paling besar terlebih dahulu,” katanya. Ia juga menegaskan agar tidak berutang di lebih dari satu sumber serta selalu mengevaluasi gaya hidup.
Menghadapi potensi krisis ekonomi pada 2030, Nurhasanah mengimbau masyarakat untuk memperkuat kebiasaan hidup hemat, memperbanyak tabungan dan investasi, serta menghindari gaya hidup berlebihan. “Kuncinya jangan panik. Susun pos pengeluaran secara teratur dan pastikan arus kas tetap positif,” ujar dosen sekaligus Komisaris Independen Bank Aladin Syariah tersebut.
Di akhir dialog, Nurhasanah menekankan bahwa persoalan keuangan rumah tangga harus dikomunikasikan secara terbuka antara pasangan. Transparansi dan perencanaan yang matang, menurutnya, akan mencegah kesalahpahaman serta risiko keuangan yang dapat membuat kondisi keluarga menjadi tidak stabil.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....