Tet Karbet, Warisan Tradisi Dentuman Karbit di Pidie
- 22 Mar 2026 11:20 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Pidie – Malam hari raya Idul Fitri kedua di Kabupaten Pidie selalu berbeda. Dentuman meriam bambu dan drum karbit menggema di tepian sungai Garot, Kecamatan Indrajaya, menandai tradisi Tet Karbet yang telah diwariskan turun-temurun.
Tradisi ini dulunya digelar pada malam pertama Idul Fitri, namun bergeser ke malam kedua karena malam takbiran sudah diisi dengan pawai resmi. Meski sederhana, Tet Karbet menjadi ajang hiburan rakyat yang mempertemukan warga dari berbagai gampong.
“Suara dentuman itu bukan sekadar hiburan, tapi tanda kebersamaan. Kami merasa Idul Fitri belum lengkap tanpa Tet Karbet,” ujar salah seorang pemuda Garot.
Selain meriam bambu (Tet Bude Trieng), warga juga menggunakan drum bekas yang diisi karbit untuk menghasilkan suara menggelegar. Dentuman bersahutan menciptakan suasana layaknya panggung perang, namun penuh sorak sorai dan tawa.
Bagi masyarakat Pidie, Tet Karbet bukan hanya pesta bunyi, melainkan simbol kemenangan setelah Ramadhan, serta pengikat solidaritas antarwarga. Meski ada kekhawatiran soal keamanan, tradisi ini tetap dijaga sebagai bagian dari identitas budaya lokal.
Dengan dentuman yang menggema hingga larut malam, Tet Karbet terus hidup sebagai warisan tradisi yang memperkuat rasa kebersamaan masyarakat Pidie setiap Idul Fitri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....