Liputan Berujung Petaka: Evaluasi Total Standar Keselamatan Jurnalis

  • 17 Sep 2026 10:20 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID,Lhokseumawe - Tragedi hilangnya lima jurnalis di Selat Sunda bukan sekadar angka dalam laporan kecelakaan kerja, melainkan sebuah alarm keras bagi industri media nasional.

Ketika pemburu berita bertaruh nyawa demi menyajikan kebenaran dari garis depan, kita dipaksa melihat kenyataan pahit: standar keselamatan kerja di medan ekstrem masih sering diabaikan.

Peristiwa memilukan ini harus menjadi momentum evaluasi total bagi perusahaan pers, organisasi profesi, hingga otoritas keselamatan laut untuk merombak ulang proteksi terhadap para jurnalis.

Taruhan Nyawa di Balik Sebuah Berita

Jurnalisme investigasi dan liputan kebencanaan adalah urat nadi informasi publik, namun tidak boleh dibayar dengan nyawa. Seringkali, tuntutan kecepatan berita (kejar tayang) membuat aspek mitigasi risiko terabaikan. Adanya tekanan terselubung bagi jurnalis untuk mendapatkan visual atau sudut pandang paling berbahaya demi rating atau klik.

Banyak jurnalis dikirim ke wilayah konflik atau bencana tanpa jaminan proteksi finansial dan medis yang memadai untuk risiko tingkat tinggi. Desakan redaksi terkadang membuat jurnalis di lapangan terpaksa mengabaikan peringatan cuaca buruk dari otoritas seperti BMKG.

Urgensi Standardisasi Manajemen Risiko di Medan Ekstrem

Menghadapi medan berbahaya seperti Selat Sunda membutuhkan lebih dari sekadar kamera dan kartu pers. Perusahaan media wajib memberlakukan protokol keselamatan seketat pasukan penyelamat.

Para jurnalis harus diberikan pelatihan mitigasi yaitu setiap jurnalis yang ditugaskan ke wilayah perairan, hutan, atau area bencana harus lulus sertifikasi survival dasar.

Kemudian diberikan penyediaan alat pelindung diri (APD) yang relevan, seperti life jacket standar pelayaran internasional, pelacak GPS portable (personal locator beacon), dan alat komunikasi satelit.

Regulasi internal media harus menjamin hak jurnalis untuk menolak liputan jika penilaian risiko di lapangan menunjukkan tingkat bahaya yang mengancam jiwa.

Sinergi Penyelamatan dan Akuntabilitas Negara

Negara melalui tim SAR dan otoritas terkait harus menunjukkan komitmen penuh tanpa birokrasi yang berbelit. Pencarian lima jurnalis ini adalah ujian atas kesigapan sistem penyelamatan maritim kita.

Selain itu, menuntut pengerahan teknologi tercanggih (seperti sonar laut dalam dan drone bawah air) sejak hari pertama kehilangan terdeteksi. Otoritas harus membuka jalur informasi yang jelas bagi keluarga korban dan komunitas pers terkait perkembangan pencarian.

Kita tidak boleh membiarkan hilangnya kelima jurnalis ini berlalu begitu saja sebagai takdir buruk di tengah laut. Menghormati profesi mereka berarti berani merombak sistem yang rapuh ini. Kebenaran memang harus dicari, tetapi tidak ada berita seharga nyawa manusia. L

(Penulis: Fohan Muzakir, M.Sos

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (UMMAH).

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....