ketika Nilai Luhur Indatu Direduksi Menjadi Gimik Wisata
- 14 Sep 2026 11:14 WIB
- Lhokseumawe
Oleh: Fohan Muzakir, M.Sos
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (UMMAH)
Momentum 8 abad Kerajaan Samudera Pasai seharusnya menjadi momentum sakral untuk merefleksikan kembali kejayaan pusat peradaban Islam maritim terbesar di Asia Tenggara.
Sebagai wilayah yang melahirkan fondasi intelektual, hukum, dan perdagangan internasional di Nusantara, perayaan ini memikul tanggung jawab moral yang berat. Namun, melihat kecenderungan pemerintah dalam mengemas momentum ini, muncul kekhawatiran yang mendalam.
Nama besar Samudera Pasai terancam mengalami komodifikasi murahan, di mana nilai-nilai luhur warisan indatu (nenek moyang) dikerdilkan dan direduksi hanya demi mengejar target kunjungan wisatawan serta pemenuhan target serapan anggaran pariwisata.
Pemerintah daerah kerap terjebak dalam ilusi bahwa keberhasilan sebuah peringatan sejarah diukur dari seberapa ramai pengunjung yang datang, seberapa viral tagar di media sosial, atau seberapa megah panggung festival didirikan.
Cara pandang eksploitatif ini mengaburkan substansi utama. Ketika sejarah hanya diletakkan sebagai jualan kosmetik industri pariwisata tanpa perlindungan cagar budaya yang riil, pemerintah sebenarnya sedang melakukan pendangkalan sejarah secara sistematis.
Festival Visual Tanpa Transfer Nilai Filosofis
Pendekatan pemerintah dalam merayakan 800 tahun Pasai cenderung terjebak pada hal-hal yang bersifat kosmetikal. Ruang publik dipenuhi oleh festival pakaian adat, pawai budaya, dan pameran kerajinan yang hanya memanjakan mata.
Pemerintah lupa atau sengaja mengabaikan bahwa Samudera Pasai di masa jaya adalah mercusuar intelektual dunia, tempat para ulama besar dan pengelana internasional seperti Ibnu Battutah mendiskusikan hukum, teologi, dan sains.
Mengemas perayaan tanpa diiringi dengan penerbitan naskah kuno secara massal atau penyelenggaraan forum ilmiah internasional adalah bukti otentik bahwa pemerintah hanya menjual eksotisme masa lalu, bukan mewariskan nilai luhur indatu.
Paradoks Panggung Megah vs Kompleks Makam Kuno yang Telantar
Komodifikasi pariwisata selalu memprioritaskan alokasi dana pada apa yang bisa difoto dan dipamerkan hari ini. Sangat ironis melihat bagaimana anggaran miliaran rupiah dapat mengalir lancar untuk menyewa sound system, tenda VIP, dan dekorasi panggung hiburan, sementara situs-situs inti penanda eksistensi Pasai di lapangan dibiarkan merana.
Kompleks makam raja-raja kuno masih banyak yang tidak terawat, minim fasilitas interpretasi informasi yang memadai, dan terancam oleh kerusakan alam maupun vandalisme.
Keengganan pemerintah berinvestasi secara serius pada restrukturisasi dan konservasi fisik cagar budaya menunjukkan bahwa situs sejarah hanya dihargai ketika ia bisa dijadikan latar belakang foto bagi pejabat dan wisatawan.
Hilangnya Jiwa Bahari Akibat Cara Pandang
Kerajaan Samudera Pasai mencatat sejarah emasnya karena posisinya sebagai poros maritim yang menguasai Selat Malaka. Kekuatan Pasai ada pada diplomasi laut, perdagangan internasional, dan keterbukaan kosmopolitannya. Namun, perayaan 8 abad yang dirancang pemerintah saat ini justru kehilangan jiwa kebaharian tersebut.
Perayaan direduksi menjadi aktivitas seremonial di daratan yang kaku dan birokratis. Absennya visi maritim dalam perayaan ini mencerminkan kegagalan pemerintah dalam menerjemahkan kejayaan masa lalu menjadi pemantik semangat generasi muda untuk kembali menguasai sektor maritim dan ekonomi kelautan strategis Aceh hari ini.
Marginalisasi Komunitas Adat dan Santri Menjadi Objek Pelengkap
Ketika logika proyek pariwisata yang top-down (dari atas ke bawah) mendominasi, aktor-aktor sejati penyelamat sejarah justru terpinggirkan.
Lembaga adat, sejarawan lokal, komunitas pemuda, serta kalangan santri dayah yang selama berabad-abad merawat ingatan kolektif tamadun Pasai sering kali hanya diposisikan sebagai penonton atau pemanis acara (seperti pembaca doa dan pengisi parade).
Pemerintah enggan memberikan ruang strategis bagi mereka untuk ikut merumuskan masterplan pelestarian Pasai. Akibatnya, perayaan ini terasa elitis, kehilangan ruh spritualnya, dan murni menjadi milik birokrasi semata.
Penulis: Fohan Muzakir, M.Sos
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (UMMAH)
Email: fohanm@gmail.com
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....