Fenomena Kecemasan Digital di Media Sosial
- 08 Sep 2026 07:51 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID,Lhokseumawe - Riuhnya jagat maya hari ini dalam merespons aktivitas serentak Gunung Anak Krakatau, Semeru, Ibu, hingga Lewotobi Laki-laki mengonfirmasi sebuah fenomena psikososial baru yang disebut sebagai "Kecemasan Digital" (Digital Anxiety).
Di era informasi instan, media sosial tidak lagi sekadar menjadi alat komunikasi, melainkan telah bertransformasi menjadi ruang gema (echo chamber) yang melipatgandakan kepanikan massal secara real-time.
Kecepatan penyebaran visual mengerikan seperti video amatir semburan abu vulkanik atau grafik pemetaan dampak yang belum terverifikasi sering kali melesat jauh lebih cepat daripada rilis resmi dari Badan Geologi maupun BMKG.
Akibatnya, masyarakat urban yang berada jauh dari lokasi bencana sekalipun ikut merasakan teror psikologis yang sama besarnya dengan mereka yang berada di zona bahaya.
Penyebaran Hoaks yang Menunggangi Kepanikan
Di tengah dahaga masyarakat akan informasi yang cepat, akun-akun pencari takarir (clickbait) kerap memanfaatkan situasi dengan menyebarkan video lama atau memprediksi potensi gempa dan tsunami susulan secara tidak ilmiah.
Mereka memproduksi narasi-narasi palsu, memotong video bencana dari tahun-tahun lalu dan menarasikannya seolah terjadi hari ini, hingga menyebarkan ramalan tidak ilmiah mengenai potensi gempa besar atau tsunami susulan yang tidak berdasar.
Di tengah kepanikan massal, sebuah informasi palsu yang menakutkan sering kali dianggap sebagai "peringatan dini yang menyelamatkan," sehingga netizen dengan cepat membagikannya tanpa verifikasi, tanpa menyadari bahwa mereka sedang ikut memperluas jaringan kepanikan dan memperkeruh situasi darurat yang sebenarnya sudah cukup berat.
Algoritma yang Mengunci Ketakutan
Sistem algoritma media sosial dirancang untuk terus menyajikan konten serupa berdasarkan apa yang sering dilihat pengguna. Ketika seorang netizen mulai mencari tahu tentang erupsi Gunung Anak Krakatau, beranda mereka akan terus dibombardir oleh konten bencana secara bertubi-tubi.
Paparan konten negatif yang tanpa jeda ini (doomscrolling) secara perlahan mengikis kesehatan mental dan menciptakan ilusi seolah-olah seluruh wilayah negara sedang berada di ambang kehancuran.
Disparitas Informasi antara Otoritas dan Netizen
Ada celah waktu (time lag) yang cukup lebar antara proses verifikasi data ilmiah oleh lembaga resmi dengan kecepatan netizen mengunggah spekulasi di platform seperti X atau TikTok.
Ketika narasi spekulatif dari influencer atau akun anonim lebih dulu viral, kepercayaan publik terhadap instruksi evakuasi atau mitigasi resmi dari pemerintah justru bisa melemah.
Dalam mengatasi kecemasan digital hari ini menjadi tantangan mitigasi nonton-fisik yang tidak kalah penting dengan penanganan pengungsi di lapangan.
Pemerintah dan otoritas terkait dituntut tidak hanya responsif di dunia nyata, tetapi juga harus agresif di dunia maya untuk membanjiri lini masa dengan infografis yang menenangkan, transparan, dan mudah dicerna oleh masyarakat awam. (*)
(Penulis: Fohan Muzakir, M.Sos
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (UMMAH).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....