Urgensi Mitigasi Modern dan Literasi Publik: Kunci hadapi Erupsi Gunung Krakatau
- 07 Sep 2026 20:32 WIB
- Lhokseumawe
Oleh: Fohan Muzakir, M.Sos
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (UMMAH)
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Rangkaian erupsi menerus Gunung Anak Krakatau yang berdampak langsung pada kelumpuhan transportasi udara akibat sebaran abu vulkanik menjadi bukti nyata bahwa ancaman Selat Sunda sangat dinamis.
Saat empat bandara strategis termasuk Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma terpaksa ditutup sementara demi keselamatan penerbangan, kita disadarkan bahwa bencana vulkanik ini memiliki efek domino yang masif bagi mobilitas dan ekonomi nasional.
Dalam menghadapi karakter gunung api yang tidak bisa diprediksi secara instan ini, pendekatan mitigasi konvensional tidak lagi cukup. Kita memerlukan lompatan besar dalam pemanfaatan teknologi mitigasi modern serta penguatan literasi publik yang sistematis agar masyarakat tidak terjebak di antara dua kutub berbahaya: kepanikan massal atau sikap abai yang meremehkan situasi.
Modernisasi Infrastruktur Mitigasi dan Peringatan Dini
Ancaman terbesar Gunung Anak Krakatau bukan hanya hujan abu yang kini melingkupi lima provinsi, melainkan potensi bahaya sekunder berupa tsunami akibat runtuhnya runtuhan tubuh gunung (flank collapse) seperti tragedi kelam tahun 2018.
Pendeteksian bencana berbasis sensor seismik darat konvensional memiliki keterbatasan besar dalam membaca potensi tsunami non-tektonik.
Pemerintah melalui PVMBG dan BMKG wajib memperkuat jaringan tide gauge, radar maritim, kamera pemantau termal tahan-material, serta integrasi citra satelit cuaca yang diperbarui setiap menit.
Ketika material erupsi merusak perangkat visual di lapangan, sistem pemantauan berlapis (redudansi sistem) harus langsung mengambil alih tanpa jeda informasi.
Modernisasi ini adalah investasi mutlak untuk memberikan waktu evakuasi emas (golden time) bagi masyarakat pesisir
Membangun Literasi Publik
Di era keterbukaan informasi, dentuman menerus dan getaran dari Selat Sunda dengan cepat memicu kepanikan psikologis di tengah warga pesisir Banten dan Lampung.
Rasa trauma masa lalu membuat rumor dan disinformasi tentang potensi tsunami raksasa mudah menyebar luas di media sosial
Literasi bencana bukan sekadar membagikan masker saat abu turun, melainkan membentuk cara berpikir sadar bencana sejak dini. Publik harus dilatih untuk membaca data dari kanal resmi seperti aplikasi MAGMA Indonesia agar memahami perbedaan esensial antara status Level III (Siaga) dengan ancaman evakuasi massal.
Masyarakat juga perlu diedukasi secara tegas untuk tidak mendekati radius bahaya 3 kilometer hanya demi mendokumentasikan konten visual egois yang mempertaruhkan keselamatan jiwa.
Evakuasi Mandiri yang Terstruktur
Mitigasi modern yang canggih akan menjadi sia-sia jika tidak diimbangi oleh kesiapan di tingkat akar rumput. Arahan dari BNPB dan instansi daerah harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata di lapangan.
Jalur evakuasi di sepanjang pesisir Selat Sunda harus dipastikan bebas hambatan, lengkap dengan papan petunjuk arah yang jelas dan ramah dalam gelap (pospor).
Pemerintah daerah bersama komunitas lokal wajib menyelenggarakan simulasi evakuasi mandiri secara berkala, bukan sekadar respons reaktif yang sifatnya musiman.
Ketahanan sebuah bangsa dalam menghadapi bencana tidak diukur dari seberapa sering mereka beruntung selamat, melainkan dari seberapa matang persiapan mereka dalam menghadapi skenario terburuk. (*)
Penulis:
Fohan Muzakir, M.Sos
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (UMMAH)
Email: fohanm@gmail.com
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....