Maulid dan Berkah kemerdekaan: Dari Perjuangan Nabi hingga Merawat Gagasan
- 27 Agt 2026 21:23 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID,Lhokseumawe - Ada sesuatu yang menarik setiap kali Agustus datang. Di satu sisi, ruang-ruang publik dipenuhi merah putih. Bendera dipasang di depan rumah, lagu-lagu perjuangan kembali terdengar, dan berbagai perayaan digelar untuk mengenang kemerdekaan. Di sisi lain, dalam kehidupan umat Islam, datang pula momentum Maulid Nabi Muhammad SAW—sebuah peristiwa yang mengajak kita menengok kembali sosok yang membawa perubahan besar dalam sejarah kemanusiaan.
Sekilas, kedua momentum itu tidak memiliki hubungan langsung. Kemerdekaan Indonesia lahir dari perjuangan panjang melawan kolonialisme, sedangkan Maulid berkaitan dengan kelahiran Nabi dan perjalanan risalah Islam.
Sejarahnya berbeda, ruang dan zamannya pun tidak sama. Namun, sejarah tidak selalu harus dipertemukan melalui kesamaan peristiwa. Ia dapat dipertautkan melalui nilai. Dan pada titik inilah Maulid dan kemerdekaan memiliki satu simpul yang menarik: keduanya berbicara tentang pembebasan manusia.
Risalah Nabi Muhammad SAW membawa manusia keluar dari kejahiliahan menuju tauhid, dari kesewenang-wenangan menuju keadilan, dan dari fanatisme kesukuan menuju persaudaraan. Sementara perjuangan kemerdekaan Indonesia membawa bangsa ini keluar dari cengkeraman kolonialisme menuju kedaulatan untuk menentukan masa depannya sendiri.
Keduanya tentu tidak boleh disamakan. Nabi bukan pahlawan nasional dalam pengertian sejarah Indonesia, dan perjuangan para pendiri bangsa bukan pula perjuangan kenabian. Tetapi ada pelajaran yang dapat ditarik dari keduanya: perubahan tidak pernah datang sebagai hadiah. Ia lahir dari keberanian, pengorbanan, keteguhan, dan kesediaan membayar harga perjuangan.
Maulid dan Makna Pembebasan
Saya kira, di sinilah kita perlu sedikit menggeser cara memandang Maulid. Selama ini, pembicaraan tentang Maulid sering kali berhenti pada pertanyaan apakah peringatan tersebut bid'ah atau bukan, boleh atau tidak, memiliki dasar atau tidak. Perdebatan semacam itu tentu mempunyai tempat dalam sejarah pemikiran dan fikih Islam. Tetapi jika pembicaraan tentang Maulid hanya berputar di sana, ada kemungkinan kita kehilangan pertanyaan yang lebih penting: apa yang bisa kita lakukan setelah mengingat Nabi?
Sebab Nabi Muhammad SAW tidak hadir hanya untuk mengajarkan tata cara ibadah. Risalah beliau juga mengubah cara manusia memandang dirinya dan orang lain. Tauhid tidak sekadar berbicara tentang keyakinan kepada Allah, tetapi sekaligus menolak penghambaan manusia kepada sesama manusia. Ajaran tentang keadilan tidak berhenti sebagai nasihat, tetapi menjadi prinsip dalam membangun kehidupan bersama. Persaudaraan tidak sekadar menjadi ungkapan, melainkan diterjemahkan menjadi solidaritas sosial.
Karena itu, Maulid seharusnya tidak hanya menjadi peristiwa mengenang kelahiran Nabi. Ia dapat menjadi memori pembebasan. Kita mengingat Nabi untuk mengukur kembali diri kita. Seberapa jauh kejujuran menjadi bagian dari kehidupan kita? Seberapa kuat amanah dijalankan ketika kita memperoleh kekuasaan? Apakah kita masih mampu bersikap adil ketika berhadapan dengan orang yang berbeda pilihan, kelompok, atau kepentingan? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu barangkali jauh lebih penting daripada sekadar memastikan bahwa setiap tahun kita tidak lupa memperingati Maulid.
Merdeka, tetapi Apakah Sudah Merasakan Kemerdekaan?
Pertanyaan serupa patut kita ajukan ketika memperingati kemerdekaan. Setiap 17 Agustus kita mengucapkan syukur karena bangsa Indonesia telah merdeka. Kita mengenang Proklamasi, para pahlawan, dan pengorbanan generasi terdahulu. Semua itu penting. Bangsa yang tidak mampu menghargai sejarahnya akan mudah kehilangan arah.
Tetapi kemerdekaan juga perlu dilihat dengan mata yang lebih kritis. Apakah kemerdekaan sudah benar-benar dirasakan oleh semua warga negara? Bagi sebagian orang, kemerdekaan mungkin berarti memiliki pekerjaan yang layak, memperoleh pendidikan yang baik, mendapatkan pelayanan kesehatan, hidup aman, dan memiliki kesempatan memperbaiki kehidupan. Namun bagi sebagian lainnya, kemerdekaan mungkin masih menjadi sesuatu yang jauh. Kemiskinan membatasi pilihan.
Pendidikan yang tidak merata mempersempit masa depan. Ketidakadilan hukum membuat rasa percaya kepada negara terkikis.
Karena itu, saya kira kita perlu memahami kemerdekaan tidak hanya sebagai bebas dari penjajahan, tetapi juga sebagai kemampuan membebaskan manusia dari berbagai bentuk ketidakadilan. Kolonialisme memang telah berakhir. Tetapi bentuk-bentuk dominasi baru dapat muncul dalam
wajah yang berbeda. Ia bisa hadir melalui kemiskinan yang diwariskan, korupsi yang dianggap biasa, kekuasaan yang tidak terkendali, diskriminasi, ketimpangan kesempatan, atau hukum yang terasa tajam kepada yang lemah tetapi tumpul kepada yang kuat. Inilah pekerjaan rumah kemerdekaan yang belum selesai.
Kita Tidak Kekurangan Peringatan
Ada satu hal yang sering mengusik pikiran saya ketika melihat berbagai perayaan keagamaan dan kebangsaan: kita sebenarnya tidak kekurangan peringatan. Yang sering kurang adalah perenungan. Maulid kita peringati. Kemerdekaan kita rayakan. Sejarah kita ceritakan berulang kali. Tetapi apakah nilai dari semua itu benar-benar masuk ke dalam perilaku kita?
Kita bisa sangat fasih berbicara tentang kejujuran Nabi, tetapi masih mudah berkompromi dengan ketidakjujuran. Kita bisa mengagumi amanah Nabi, tetapi ketika memperoleh jabatan justru menjadikan kekuasaan sebagai kesempatan memperkaya diri. Kita bisa mengibarkan bendera merah putih dengan bangga, tetapi pada saat yang sama tidak peduli ketika orang lain mengalami ketidakadilan.
Di titik ini, peringatan kehilangan daya transformasinya. Maulid seharusnya membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Kemerdekaan seharusnya membuat kita menjadi warga negara yang lebih bertanggung jawab. Jika setelah semua perayaan itu kita tidak berubah, barangkali yang perlu dievaluasi bukan kemeriahannya, melainkan kedalaman maknanya.
Merawat Indonesia sebagai Gagasan
Karena itu, yang perlu kita rawat sebenarnya bukan hanya Indonesia sebagai sebuah negara, tetapi Indonesia sebagai sebuah gagasan. Indonesia tidak lahir dari keseragaman. Ia dibangun oleh manusia dengan latar belakang agama, etnis, budaya, bahasa, dan pengalaman sejarah yang beragam. Para pendiri bangsa memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling meniadakan.
Bhinneka Tunggal Ika karena itu tidak boleh berhenti sebagai semboyan yang kita hafal sejak sekolah. Ia harus menjadi etika kehidupan bersama. Merawat kebinekaan berarti bersedia menerima kenyataan bahwa Indonesia memang berbeda-beda. Tidak semua orang harus memiliki pandangan politik yang sama. Tidak semua warga harus memiliki latar belakang budaya yang sama. Bahkan dalam kehidupan beragama pun terdapat keragaman pemahaman.
Yang diperlukan bukan keseragaman, melainkan kesediaan untuk hidup bersama secara bermartabat. Dalam konteks inilah nilai-nilai kenabian menjadi relevan. Kejujuran dapat diterjemahkan menjadi integritas dalam kehidupan publik. Amanah menjadi etika dalam menggunakan kekuasaan. Keadilan menjadi dasar dalam penegakan hukum dan pembangunan. Persaudaraan menjadi energi untuk mengatasi politik identitas yang memecah belah. Dan keberanian moral menjadi modal untuk mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah, sekalipun tidak selalu menguntungkan.
Maulid dengan demikian dapat menjadi ruang untuk memperkuat energi moral bangsa. Kecintaan kepada Nabi semestinya tidak membuat kita semakin mudah memusuhi orang lain. Sebaliknya, ia harus membuat kita semakin mampu menghadirkan kasih sayang, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama manusia.
Kemerdekaan sebagai Amanah
Para pendiri bangsa telah meninggalkan cita-cita yang jauh lebih besar daripada sekadar membentuk sebuah negara. Mereka membayangkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan beradab. Cita-cita itu tidak otomatis terwujud hanya karena negara telah berdiri. Ia harus diperjuangkan oleh setiap generasi.
Generasi 1945 memiliki tantangan berupa kolonialisme. Generasi setelahnya menghadapi persoalan mempertahankan kedaulatan dan membangun negara. Generasi hari ini menghadapi persoalan yang tidak kalah kompleks: bagaimana memastikan kemajuan ekonomi tidak meninggalkan kelompok lemah, bagaimana teknologi tidak memperbesar kebencian, bagaimana demokrasi tidak berubah menjadi sekadar perebutan kekuasaan, dan bagaimana hukum tetap menjadi instrumen keadilan.
Inilah sebabnya kemerdekaan harus dipandang sebagai amanah. Amanah tidak cukup dijaga dengan mengenang orang-orang yang telah berjuang. Amanah harus dibuktikan melalui apa yang kita lakukan dengan warisan yang mereka tinggalkan. Kita tidak bisa terus-menerus bertanya apa yang telah diberikan Indonesia kepada kita. Sesekali, bahkan mungkin lebih sering, kita perlu bertanya: apa yang sudah kita berikan kepada Indonesia?
Dari Mengenang Menuju Menghidupkan
Pada akhirnya, Maulid dan kemerdekaan memiliki satu pesan yang sama: perjuangan tidak pernah selesai hanya karena sebuah peristiwa telah berlalu. Nabi telah wafat, tetapi nilai perjuangannya harus tetap hidup.
Para pahlawan telah tiada, tetapi cita-cita kemerdekaan yang mereka perjuangkan tidak boleh ikut dikuburkan bersama mereka. Maka, memperingati Maulid dalam suasana kemerdekaan dapat menjadi kesempatan yang sangat baik untuk melakukan introspeksi. Kita mengenang Nabi bukan hanya agar mengetahui sejarah kelahiran beliau, tetapi agar keteladanannya hadir dalam kehidupan kita. Kita mengenang para pahlawan bukan hanya agar tahu siapa mereka, tetapi agar memahami tanggung jawab yang diwariskan kepada kita.
Sebab kemerdekaan yang sejati bukan hanya kemampuan mengibarkan bendera sendiri. Kemerdekaan adalah kemampuan memastikan setiap manusia dapat hidup dengan martabatnya. Dan keberagamaan yang matang bukan hanya kemampuan berbicara tentang Nabi, tetapi kesediaan menghadirkan akhlak Nabi dalam kehidupan.
Mungkin inilah makna paling sederhana dari berkah Maulid dan kemerdekaan: membebaskan diri sekaligus membantu membebaskan orang lain. Merdeka dari keserakahan. Merdeka dari kebencian. Merdeka dari prasangka. Merdeka dari ketidakjujuran. Dan pada saat yang sama, berusaha membebaskan mereka yang masih terbelenggu oleh kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, dan keterpinggiran.
Kita tidak hanya membutuhkan generasi yang pandai mengingat sejarah. Kita membutuhkan generasi yang mampu menghidupkan nilai sejarah dalam kehidupan hari ini. Karena itu, Maulid jangan berhenti pada ingatan tentang Nabi.
Kemerdekaan jangan berhenti pada upacara dan perayaan. Keduanya harus menjadi panggilan untuk bekerja lebih keras menghadirkan keadilan, menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan memastikan bahwa Indonesia tetap menjadi rumah bersama bagi seluruh anak bangsa. Sebab yang diwariskan kepada kita bukan hanya sebuah negara, tetapi sebuah cita-cita.Tugas kita adalah memastikan cita-cita itu tetap hidup.
(oleh: Noviandy, Dosen IAIN Langsa).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....