Peringatan Hari Santri Nasional, Pesantren Menuju Dunia
- 22 Okt 2025 09:56 WIB
- Lhokseumawe
KBRN, Lhokseumawe: Setiap tanggal 22 Oktober, gema shalawat dan takbir terdengar di pesantren-pesantren seluruh Nusantara. Bukan hanya karena perayaan, tapi karena ada kebanggaan tersendiri menjadi “santri”. Gelar yang sederhana tapi penuh makna, sebab di balik sarung, peci, dan kitab kuning, tersimpan kisah perjuangan, tawa, dan rindu yang tak semua orang tahu.
Banyak orang menyebut pesantren sebagai penjara suci. Dindingnya tinggi, aturannya ketat, dan jadwalnya padat. Tapi anehnya, di sanalah para santri justru menemukan kebebasan sejati.
Bebas dari kecanduan gawai, dari hiruk pikuk dunia maya, dari kesibukan yang membuat hati gersang.
Mereka digembleng bukan hanya untuk cerdas, tapi juga tulus dan tangguh. Bangun sebelum fajar, menyiapkan diri untuk tahajud dan subuh berjamaah, semua dimulai dari disiplin kecil yang menumbuhkan jiwa besar.
Di sela-sela belajar kitab Fathul Qarib dan Tafsir Jalalain, terselip kisah lucu yang jadi kenangan abadi. Ada yang kepergok tidur saat pengajian, lalu disuruh berdiri sambil menghafal nazam. Ada pula yang diam-diam menulis puisi rindu untuk orang tua di kampung, lalu menyelipkannya di balik lembaran kitab. Kadang malam terasa panjang, apalagi saat listrik mati dan nyamuk ramai. Tapi justru di situlah, kehangatan persaudaraan tumbuh, berbagi bantal, berbagi cerita, bahkan berbagi mimpi.
Jadi santri itu bukan cuma soal belajar agama, tapi juga belajar hidup. Mereka mencuci baju sendiri, makan dengan lauk sederhana, dan belajar untuk tidak mengeluh. Ketika ada yang sakit, teman-temannya bergantian menjaga. Saat ada yang rindu rumah, semua ikut menghibur. Itulah kehidupan di pesantren, keras tapi penuh kasih, sederhana tapi kaya makna.
Hari Santri bukan sekadar seremonial. Ia lahir dari semangat resolusi jihad tahun 1945, ketika para kiai dan santri turun ke medan perjuangan melawan penjajah. Kini, semangat itu hidup lagi dalam bentuk berbeda, melawan kebodohan, kemalasan, dan lupa diri. Santri zaman sekarang bukan hanya bisa mengaji, tapi juga menulis, berdakwah digital, bahkan menjadi inovator. Sarung tak lagi jadi batas, tapi identitas kebanggaan.
Jadi, kalau suatu hari kamu melewati pesantren dan mendengar lantunan ayat suci di tengah malam, ingatlah, di balik dinding itu ada ratusan hati muda yang sedang menata masa depan dengan doa dan tekad. Mereka mungkin tampak sederhana, tapi merekalah penjaga moral bangsa.
Selamat Hari Santri Nasional 2025, Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia.